Detail Berita

Tauhid sebagai Jalan Lurus Menuju Ridha Allah

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menggelar kajian rutin setelah Sholat Shubuh bersama KH. Ahmad Maimun Syafi’i. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memahami kisah Nabi Isa AS sekaligus memperkuat keyakinan tentang kemurnian tauhid kepada Allah SWT, Sabtu (11/07/2026).

Kuliah Shubuh

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menggelar kajian rutin setelah Sholat Shubuh bersama KH. Ahmad Maimun Syafi’i. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memahami kisah Nabi Isa AS sekaligus memperkuat keyakinan tentang kemurnian tauhid kepada Allah SWT, Sabtu (11/07/2026).

Mengawali kajiannya, KH. Ahmad Maimun Syafi’i mengulas kandungan ayat Al-Qur'an yang menjelaskan keselamatan dan penjagaan Allah SWT kepada Nabi Isa AS sejak dilahirkan, ketika wafat, hingga kelak dibangkitkan kembali.

Menurutnya, tiga fase kehidupan tersebut merupakan momentum penting bagi manusia. Kelahiran, kematian, dan kebangkitan dari alam kubur menjadi keadaan yang penuh dengan ketidakpastian dan kekhawatiran bagi seorang hamba.

“Ketika seseorang dilahirkan, ada kekhawatiran. Ketika menghadapi kematian juga demikian. Begitu pula ketika manusia dibangkitkan dari kubur. Semua membutuhkan keselamatan dan penjagaan dari Allah SWT,” jelasnya.

Dalam kajian tersebut, KH. Ahmad Maimun Syafi’i kemudian menguraikan kedudukan Nabi Isa AS sebagai putra Sayyidah Maryam. Ia menegaskan bahwa Nabi Isa AS merupakan salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Kelahiran Nabi Isa AS tanpa seorang ayah tidak dapat dijadikan alasan untuk menisbatkan Isa sebagai anak Allah. Sebaliknya, peristiwa tersebut justru menunjukkan kemahakuasaan Allah dalam menciptakan makhluk-Nya.

Allah SWT mampu menciptakan Nabi Adam AS tanpa ayah dan ibu. Allah juga menciptakan Sayyidah Hawa dari seorang laki-laki tanpa melalui seorang perempuan. Sedangkan Nabi Isa AS dilahirkan dari seorang perempuan tanpa ayah.

Semua itu, menurut KH. Ahmad Maimun Syafi’i, menunjukkan bahwa kekuasaan Allah SWT tidak dibatasi oleh hukum dan kebiasaan manusia.

“Ketika Allah telah menetapkan suatu perkara, Allah cukup berfirman, ‘Kun’, maka terjadilah perkara tersebut. Ini menunjukkan kekuasaan Allah SWT,” terangnya.

Lebih lanjut, kajian juga membahas perbedaan pandangan manusia terhadap Nabi Isa AS. Ada kelompok yang menuduh Nabi Isa sebagai seorang penyihir. Sementara sebagian lainnya menganggap Nabi Isa sebagai anak Allah.

Islam dengan tegas menolak pandangan tersebut.

KH. Ahmad Maimun Syafi’i menjelaskan bahwa Allah SWT Mahasuci dari segala sifat kekurangan. Anggapan bahwa Allah mempunyai anak bertentangan dengan kesempurnaan sifat Allah. Sebab, kebutuhan terhadap anak merupakan bagian dari kebutuhan makhluk.

“Kalau Allah membutuhkan anak, berarti ada kebutuhan. Sedangkan kebutuhan menunjukkan kekurangan. Allah Mahasuci dari segala kekurangan,” jelasnya.

Karena itu, Nabi Isa AS sendiri menyeru umat manusia untuk hanya menyembah Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”

Pesan tersebut, menurut KH. Ahmad Maimun Syafi’i, merupakan inti ajaran tauhid. Manusia diperintahkan mengesakan Allah SWT, meniadakan segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya, serta meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Tauhid inilah yang disebut sebagai shirathal mustaqim atau jalan yang lurus.

“Jalan yang lurus itu adalah tauhid. Mengesakan Allah, meyakini Allah itu satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Jalan inilah yang akan mengantarkan manusia menuju surga dan ridha Allah SWT,” tuturnya.

KH. Ahmad Maimun Syafi’i juga mengingatkan bahwa kalimat La ilaha illallah bukan sekadar ucapan lisan. Kalimat tauhid tersebut harus menjadi dasar keyakinan seorang Muslim dalam melihat kehidupan.

Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah SWT. Seluruh makhluk memiliki keberadaan yang terbatas dan tidak kekal. Sedangkan Allah SWT adalah Dzat Yang Mahaada dan kekal selama-lamanya.

Karena itu, seorang Muslim harus terus menjaga kemurnian akidah dan menghadapkan hati hanya kepada Allah SWT. Bahkan dalam ibadah, hati harus dilatih agar tidak mudah disibukkan oleh urusan dunia.

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diingatkan tentang pentingnya menghadirkan hati ketika melaksanakan sholat. Tidak sedikit manusia yang secara fisik menghadap kiblat, namun pikirannya masih berjalan ke berbagai urusan pekerjaan, keluarga, maupun persoalan dunia.

KH. Ahmad Maimun Syafi’i menuturkan sejumlah kisah para ulama dan orang-orang saleh yang memiliki tingkat kekhusyukan luar biasa dalam beribadah. Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa kedekatan kepada Allah membutuhkan latihan hati dan kesungguhan dalam beribadah.

Kajian Subuh itu ditutup dengan penegasan bahwa kemurnian tauhid merupakan bekal utama seorang Muslim. Dengan mengesakan Allah SWT, menjaga ibadah, dan berjalan di atas shirathal mustaqim, seorang hamba diharapkan dapat meraih surga serta ridha Allah SWT.

“Tauhid adalah jalan yang lurus. Jalan yang mengantarkan kita menuju surga dan ridha Allah SWT,” pungkas KH. Ahmad Maimun Syafi’i.