Detail Berita

Tawadhu dan Penghalang Kekhusyukan Ibadah

Bojonegoro, Sikap tawadhu atau rendah hati dinilai sebagai kunci utama untuk merasakan kenikmatan dan kekhusyukan dalam beribadah. Hal tersebut disampaikan dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Selasa (20/1/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Sikap tawadhu atau rendah hati dinilai sebagai kunci utama untuk merasakan kenikmatan dan kekhusyukan dalam beribadah. Hal tersebut disampaikan dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Selasa (20/1/2026).

Dalam kajian tersebut, Ustadz Khafif menekankan pentingnya kesadaran akan kelemahan diri di hadapan Allah SWT. Menurutnya, pengakuan bahwa manusia tidak mampu beribadah dan menjauhi kemaksiatan tanpa pertolongan Allah merupakan tanda diterimanya amal ibadah. Kesadaran ini, kata dia, justru menjadi pintu pembuka bagi meningkatnya kualitas ibadah.

Sebagai ilustrasi, Ustadz Khafif mengisahkan peristiwa Isra Mikraj, ketika seluruh buraq berlomba-lomba ingin menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW. Namun, buraq yang justru terpilih adalah yang merasa paling lemah dan tidak memiliki keistimewaan. Kisah tersebut dipahami sebagai simbol bahwa Allah meninggikan derajat hamba yang bersikap tawadhu.

Kajian juga mengulas alasan mengapa sebagian orang belum mampu merasakan nikmatnya ibadah, khususnya salat. Salah satu penghalang utama, menurut Ustadz Khafif, adalah penyakit kesombongan yang kerap muncul tanpa disadari. Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa setan memiliki dua strategi utama: menggoda manusia agar bermaksiat, atau jika gagal, membisiki perasaan paling saleh dan paling benar, yang berujung pada kesombongan halus.

Selain kesombongan, permusuhan dan konflik antarsesama juga disebut sebagai penghalang kekhusyukan ibadah. Ustadz Khafif mengutip hadist Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa mendamaikan orang-orang yang berselisih lebih utama pahalanya dibandingkan salat sunah, puasa, sedekah, dan zikir. Sebab, konflik batin dan sosial dinilai dapat menghalangi hati untuk merasakan kedekatan dengan Allah.

Dalam konteks akhlak, Ustadz Khafif menyoroti konsep at-taghaful, yaitu kemampuan untuk melupakan kesalahan orang lain. Ia menyebut bahwa sebagian besar akhlak mulia Nabi Muhammad SAW tercermin dalam sikap memaafkan, tidak menyimpan dendam, serta mudah menerima orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau, seperti Khalid bin Walid.

Kajian tersebut juga mengajak jamaah untuk lebih banyak melakukan muhasabah diri. Menurut Ustadz Khafif, berbagai musibah sosial, konflik, hingga krisis kepemimpinan seharusnya menjadi cermin bagi umat untuk memperbaiki diri, bukan sekadar menyalahkan pihak lain. Kesalahan individu dan kolektif dinilai memiliki dampak luas terhadap kehidupan sosial dan alam.

Menutup kajian, Ustadz Khafif mengingatkan jamaah agar lebih mensyukuri nikmat besar berupa kemampuan beribadah. Ia menilai, manusia sering kali lebih bergembira atas nikmat duniawi yang kecil, namun kurang merasakan kebahagiaan atas nikmat besar seperti kekuatan untuk salat dan beribadah. Padahal, rasa syukur dan kebahagiaan sebelum dan sesudah ibadah diyakini akan meningkatkan kualitas kekhusyukan pada ibadah berikutnya.

Kajian Subuh tersebut ditutup dengan doa bersama, dengan harapan agar jamaah mampu menjadi hamba Allah yang sejati, bukan hamba hawa nafsu atau dunia, serta senantiasa merasakan kedekatan spiritual dalam setiap ibadah yang dijalani.