Tawakal dan Kritik Orientasi Hidup Materialistik
Bojonegoro, Kajian keislaman yang digelar di Masjid Agung Darussalam, pada bulan Rajab menekankan pentingnya sikap tawakal dan kerelaan menerima ketentuan Allah sebagai fondasi ketenangan hidup, di tengah menguatnya kecenderungan hidup materialistik di masyarakat modern, Rabu (14/1/2026).
Bojonegoro, Kajian keislaman yang digelar di
Masjid Agung Darussalam, pada bulan Rajab menekankan pentingnya sikap tawakal dan kerelaan
menerima ketentuan Allah sebagai fondasi ketenangan hidup, di
tengah menguatnya kecenderungan hidup materialistik di masyarakat modern, Rabu
(14/1/2026).
Dalam kajian tersebut, Ustadz Yogi
mengawali dengan pengingat akan nikmat iman dan Islam, serta harapan agar
jamaah dapat menjaga keduanya hingga akhir hayat dan dipertemukan kembali
dengan bulan suci Ramadhan. Momentum Rajab, menurutnya, merupakan fase penting
untuk memperkuat spiritualitas dan menata ulang orientasi hidup seorang muslim.
Kajian kemudian berlanjut pada
pembahasan tawakal dalam perspektif para ulama klasik. Salah satu kisah yang
disampaikan merujuk pada perkataan Hasan al-Bashri, ulama besar generasi
tabi’in, yang menggambarkan puncak tawakal sebagai sikap pasrah total terhadap
keputusan Allah, bahkan dalam perkara rezeki yang secara logika tampak
mustahil.
“Seandainya seluruh penduduk sebuah
kota berada dalam tanggung jawabku, Allah tetap akan memberi rezeki kepada
mereka,” demikian makna ungkapan Hasan al-Bashri yang dikutip, untuk menegaskan
bahwa rezeki sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan.
Pandangan serupa juga dinukil dari
Ibnu Wardi al-Makki yang menyatakan bahwa kegelisahan berlebihan terhadap
rezeki, meskipun kebutuhan hari esok telah tercukupi, justru mencerminkan lemahnya
kepercayaan kepada Allah. Dalam tradisi tasawuf, kegelisahan semacam itu bahkan
dipandang sebagai “kesalahan batin”.
Ustadz Yogi juga mengulas pandangan
Sufyan ats-Tsauri dan Sahal bin Abdullah at-Tustari mengenai puasa. Menurut
mereka, orang yang telah berpuasa namun masih diliputi kecemasan soal urusan
dunia, seperti memikirkan menu berbuka sejak pagi, dinilai belum mencapai
kualitas puasa yang utuh, karena puasa sejatinya bukan hanya menahan lapar dan
dahaga, tetapi juga membersihkan hati dari ketergantungan duniawi.
Lebih jauh, kajian tersebut
menyoroti dampak psikologis dari orientasi hidup
materialistik. Pola pikir yang menjadikan kesuksesan dan
kebahagiaan semata-mata diukur dari capaian duniawi dinilai berkontribusi pada
meningkatnya kecemasan, iri hati, depresi, hingga gangguan kesehatan mental.
Fenomena ini, menurut Ustadz Yogi,
semakin diperparah oleh media sosial yang kerap menampilkan citra kehidupan
semu. “Banyak yang terlihat bahagia dan sukses di layar, tetapi tidak
mencerminkan kondisi sebenarnya,” ujarnya, seraya menyinggung penelitian
sederhana yang menunjukkan bahwa sebagian besar konten media sosial bersifat
rekayasa.
Dalam konteks ini, ajaran Islam,
khususnya tasawuf, dipandang menawarkan jalan pemulihan batin. Tawakal, ridha,
dan syukur disebut sebagai penangkal kecemasan masa depan (anticipatory
anxiety) yang kini banyak dialami masyarakat, terutama akibat tekanan
ekonomi, judi daring, dan pinjaman online.
Menutup kajian, Ustadz Yogi
mengutip tafsir Fakhruddin ar-Razi atas ayat Al-Qur’an yang menggambarkan dunia
sebagai permainan, senda gurau, dan perhiasan yang bersifat sementara. Dunia,
ditegaskan, bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dijadikan sarana menuju
ketaatan dan kebermaknaan hidup.
“Masalahnya bukan pada dunia,
tetapi ketika dunia menguasai hati,” ujarnya.
Kajian tersebut ditutup dengan doa dan istighfar bersama, dengan harapan agar jamaah mampu menempatkan dunia secara proporsional dan menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang, bersandar sepenuhnya kepada Allah.
