Ternyata Ini Puncak Keimanan Seorang Muslim
Kajian Rutin Setelah Shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menghadirkan pembahasan yang memperdalam dimensi spiritual umat Islam. Kajian kali ini disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A. yang melanjutkan pembahasan kitab Q?tul Qul?b f? Mu‘?malatil Ma?b?b karya Syekh Abu Thalib Al-Makki. Pada kesempatan tersebut, beliau mengulas tema maqam ridha, yaitu salah satu tingkatan tertinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju keyakinan yang sempurna kepada Allah SWT, Rabu
Kajian
Rutin Setelah Shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali
menghadirkan pembahasan yang memperdalam dimensi spiritual umat Islam. Kajian
kali ini disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., M.A. yang melanjutkan
pembahasan kitab Q?tul Qul?b f? Mu‘?malatil Ma?b?b karya Syekh Abu
Thalib Al-Makki. Pada kesempatan tersebut, beliau mengulas tema maqam ridha,
yaitu salah satu tingkatan tertinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju
keyakinan yang sempurna kepada Allah SWT, Rabu (29/07/2026).
Dalam
penjelasannya, Dr. Yogi menerangkan bahwa ridha merupakan puncak dari tingkatan
keyakinan (maq?m al-yaq?n). Seseorang yang telah mencapai derajat ridha
tidak hanya berserah diri kepada Allah, tetapi juga menerima seluruh
ketetapan-Nya dengan lapang dada. Beliau mengutip firman Allah SWT bahwa
balasan bagi orang yang memperbaiki keridhaannya kepada Allah adalah Allah
sendiri akan meridhainya. Menurut beliau, inilah anugerah tertinggi yang dapat
diraih oleh seorang mukmin.
Lebih
lanjut, beliau membedakan antara tawakal dan ridha. Tawakal berarti menyerahkan
urusan kepada Allah setelah berikhtiar, namun dalam praktiknya masih sering
disertai rasa khawatir atau harapan agar hasilnya sesuai keinginan. Adapun
ridha merupakan tingkatan yang lebih tinggi, yaitu ketika seseorang benar-benar
menerima apa pun keputusan Allah tanpa lagi dikuasai kegelisahan. Hati tetap
tenang, baik ketika memperoleh nikmat maupun menghadapi ujian.
Sebagai
ilustrasi, Dr. Yogi mengangkat kisah Nabi Musa AS ketika masih bayi. Beliau
menjelaskan bahwa ibu Nabi Musa terlebih dahulu melakukan ikhtiar maksimal
dengan menyusui anaknya, membuat peti yang kokoh, serta meminta putrinya
mengawasi perjalanan peti tersebut di sungai. Setelah seluruh ikhtiar
dilakukan, barulah ia bertawakal kepada Allah. Ketika Allah meneguhkan hatinya
hingga mampu menerima seluruh ketetapan-Nya dengan penuh keyakinan, di situlah
tampak hakikat ridha. Pada akhirnya Allah mengembalikan Nabi Musa kepada ibunya
dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kisah tersebut menjadi
bukti bahwa Allah membalas keridhaan hamba-Nya dengan kebaikan yang lebih
besar.
Dalam
kajian tersebut, Dr. Yogi juga menjelaskan bahwa maqam ridha mengubah orientasi
ibadah seorang muslim. Pada tahap awal, seseorang beribadah karena mengharapkan
pahala, surga, atau takut terhadap siksa neraka. Hal itu merupakan sesuatu yang
benar dan wajar. Namun, ketika seseorang telah mencapai derajat ridha,
ibadahnya didorong oleh rasa cinta kepada Allah SWT semata. Beliau
mengibaratkan perbedaan tersebut seperti seseorang yang menginap di hotel
karena transaksi pembayaran, berbeda dengan mengunjungi rumah sahabat dekat
yang dilandasi rasa cinta dan kerinduan sehingga tidak lagi memperhitungkan
fasilitas yang diterima.
Beliau
menambahkan bahwa puncak syukur bukan hanya melihat besarnya nikmat yang
diterima, melainkan menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT.
Ketika hati lebih fokus kepada Sang Pemberi Nikmat daripada nikmat itu sendiri,
seseorang akan lebih mudah mencapai keridhaan dan ketenangan dalam hidup.
Dr.
Yogi kemudian menjelaskan bahwa balasan tertinggi bagi orang yang ridha bukan
semata-mata surga beserta seluruh kenikmatannya, melainkan keridhaan Allah SWT.
Sebab apabila Allah telah ridha kepada seorang hamba, maka seluruh kebaikan
akan mengikutinya. Beliau mengutip firman Allah, "Radhiyallahu 'anhum
wa radh? 'anhu" sebagai gambaran hubungan timbal balik antara
keridhaan Allah dan keridhaan hamba-Nya.
Pada
kesempatan itu, beliau juga menegaskan bahwa sikap ridha akan menjaga
keikhlasan seseorang dalam beramal sehingga terhindar dari riya dan keinginan
memperoleh pujian manusia. Sebagai contoh, beliau mengisahkan keteladanan
Sayyidina Utsman bin Affan RA yang memilih menyedekahkan seluruh barang dagangannya
pada masa paceklik demi mengharap keridhaan Allah, meskipun banyak pedagang
menawarkan keuntungan berlipat ganda. Sikap tersebut menunjukkan bahwa orang
yang telah mencapai maqam ridha tidak lagi berorientasi pada keuntungan dunia,
tetapi hanya mengharapkan ridha Allah SWT.
Mengakhiri
kajian, Dr. Yogi mengulas keutamaan zikir sebagaimana firman Allah SWT, "Wa
la dzikrull?hi akbar." Beliau menjelaskan bahwa mengingat Allah
merupakan ibadah yang sangat agung, bahkan lebih mulia lagi ketika Allah mengingat
hamba-Nya. Mengutip hadis qudsi, beliau menyampaikan bahwa siapa yang mengingat
Allah, maka Allah akan mengingatnya dengan kemuliaan yang jauh lebih besar,
bahkan di hadapan para malaikat-Nya. Oleh karena itu, umat Islam diajak untuk
memperbanyak zikir sebagai jalan meraih keridhaan Allah SWT.
Kajian ditutup dengan ajakan agar seluruh jamaah terus meningkatkan kualitas keyakinan kepada Allah SWT melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh, tawakal yang benar, dan sikap ridha terhadap seluruh ketentuan-Nya. Dengan demikian, seorang mukmin tidak hanya memperoleh ketenangan hati di dunia, tetapi juga meraih balasan tertinggi berupa keridhaan Allah SWT di akhirat kelak. Acara kemudian diakhiri dengan istigfar, doa bersama, serta permohonan keberkahan ilmu, rezeki, keluarga, dan kehidupan kepada Allah SWT.
