Detail Berita

Tiga Level Keyakinan dalam Islam

Kajian rutin setelah Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menghadirkan siraman ruhani yang penuh makna bagi jamaah. Kajian disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. dengan melanjutkan pembahasan Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari. Materi yang dibahas kali ini mengupas tentang tingkatan keyakinan seorang hamba dalam perjalanan menuju Allah SWT, Jum’at (26/6/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Sholat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menghadirkan siraman ruhani yang penuh makna bagi jamaah. Kajian disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi, M.Ag. dengan melanjutkan pembahasan Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari. Materi yang dibahas kali ini mengupas tentang tingkatan keyakinan seorang hamba dalam perjalanan menuju Allah SWT, Jum’at (26/6/2026).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menjelaskan bahwa keimanan memiliki beberapa tingkatan yang harus terus ditingkatkan oleh setiap muslim. Beliau mengawali dengan menjelaskan tiga level keyakinan, yakni Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin.

Ilmul Yaqin diibaratkan sebagai seseorang yang percaya akan keberadaan sesuatu meski belum melihatnya secara langsung, seperti seseorang yang meyakini adanya suatu tempat berdasarkan informasi yang diterima. Tingkatan berikutnya adalah Ainul Yaqin, yaitu ketika keyakinan itu semakin kuat karena seseorang mulai “menyaksikan” tanda-tanda kebenaran yang diyakini. Sedangkan tingkatan tertinggi adalah Haqqul Yaqin, ketika seseorang benar-benar merasakan dan mengalami hakikat dari apa yang diyakininya.

Mengutip perkataan Imam Ibnu Athaillah, beliau menjelaskan bahwa ketika cahaya keyakinan (Nurul Yaqin) telah menyinari hati seseorang, maka pandangannya terhadap akhirat akan terasa begitu dekat. Seorang mukmin tidak lagi hanya percaya akan adanya surga dan neraka, tetapi hatinya seakan dapat merasakan realitas kehidupan akhirat itu sendiri.

Beliau juga mencontohkan kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW, salah satunya sahabat Harits Al-Anshari yang pernah mengatakan kepada Rasulullah bahwa dirinya telah menjadi mukmin sejati. Ketika ditanya bukti keimanannya, Harits menjawab bahwa hatinya seolah dapat melihat penduduk surga menikmati kenikmatan dan penduduk neraka sedang menerima azab. Jawaban itu menunjukkan tingkat keyakinan yang sangat tinggi, bukan sekadar pengetahuan biasa.

Menurut beliau, untuk mencapai tingkatan keyakinan yang lebih tinggi, seseorang harus merawat iman dengan amal saleh, memperbanyak ibadah, melakukan mujahadah lahir dan batin, membersihkan penyakit hati seperti riya, hasad, dendam, cinta dunia berlebihan, serta menghiasi hati dengan ikhlas, taubat, dan ridha kepada Allah SWT.

Beliau menegaskan bahwa iman sejati tidak cukup hanya diucapkan atau dipahami secara intelektual, tetapi harus dipupuk terus-menerus hingga hati dipenuhi cahaya keyakinan yang membuat seseorang semakin dekat dengan Allah dan semakin kuat menghadapi kehidupan dunia.

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini kembali menjadi pengingat bahwa perjalanan spiritual seorang muslim adalah perjalanan menaikkan kualitas iman, dari sekadar mengetahui kebenaran, menuju menyaksikan kebenaran, hingga akhirnya merasakan hakikat kebenaran itu sendiri.

Di akhir kajian, beliau memanjatkan doa agar seluruh jamaah diberikan Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin, sehingga mampu menjalani kehidupan dengan hati yang tenang dan keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT.

“Iman bukan hanya percaya, tetapi perjalanan panjang menuju keyakinan yang benar-benar hidup di dalam hati.”