Detail Berita

Tiga Tameng” Kehidupan

menghadirkan suasana teduh ketika para jamaah mengikuti pengajian rutin yang membahas pesan-pesan keagamaan dari ulama klasik. Dalam kesempatan itu, Ustadz Khafif mengangkat kembali nasihat ulama tabi'in, Syekh Ka’ab al-Akhbar, mengenai tiga “tameng” terkuat bagi seorang mukmin dalam menjalani kehidupan dunia, Senin (24/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menghadirkan suasana teduh ketika para jamaah mengikuti pengajian rutin yang membahas pesan-pesan keagamaan dari ulama klasik. Dalam kesempatan itu, Ustadz Khafif mengangkat kembali nasihat ulama tabi'in, Syekh Ka’ab al-Akhbar, mengenai tiga “tameng” terkuat bagi seorang mukmin dalam menjalani kehidupan dunia, Senin (24/11/2025).

Dalam Tausiyahnya, Ustadz Khafif menggambarkan perjalanan hidup manusia sebagai perjalanan panjang penuh godaan, layaknya perjalanan darat Bojonegoro–Jakarta yang menguji konsistensi dan kewaspadaan. Iman, katanya, ibarat air bening dalam piring yang dibawa sepanjang perjalanan. “Di kanan-kiri ada godaan, ujian, dan tipu daya dunia. Tanpa tameng yang kuat, iman mudah tumpah atau keruh,” ujarnya.

Tameng pertama yang disebutkan ialah masjid. Berdasarkan berbagai riwayat, masjid disebut mampu memberi syafaat dan pertolongan bagi mereka yang hatinya terpaut pada rumah ibadah, rajin berjamaah, berzikir, dan mengikuti majelis ilmu. Ustadz Khafif mencontohkan bagaimana mereka yang terbiasa datang ke masjid sebelum adzan digambarkan kelak mampu melewati sirotol mustaqim dengan cepat bak kilat.

Ia juga menyampaikan kisah-kisah klasik tentang orang-orang saleh yang istiqamah memakmurkan masjid, termasuk gambaran alegoris tentang malaikat yang mengajak para hamba menaiki “safinah”, perlambang masjid yang mengantarkan mereka menuju keselamatan akhirat.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga sumber energi rohani. Orang yang rajin hadir di masjid akan diberi kekuatan tambahan oleh Allah, sehingga ibadah yang terasa berat menjadi ringan,” katanya. Ia mencontohkan para ulama besar yang mampu melaksanakan ratusan hingga seribu rakaat salat sunnah karena kekuatan rohani yang tinggi.

Ustadz Khafif juga menyinggung persoalan psikologis masyarakat modern yang kerap dihantui kekhawatiran berlebih terhadap urusan duniawi. Ia memaparkan kisah seorang kepala cabang bank yang mengaku terus-menerus diliputi kecemasan tentang biaya hidup keluarganya, meski secara ekonomi tergolong mapan.

“Orang yang tidak memenuhi hatinya dengan zikir akan diuji dengan kesibukan memikirkan hal-hal remeh duniawi,” ujarnya. Sebaliknya, mereka yang hatinya dekat dengan Allah akan lebih tenang meski kondisi ekonominya sederhana.

Di tengah kajian, ia juga menyinggung pentingnya keseimbangan gerak tubuh. Merujuk berbagai penelitian tentang kebiasaan masyarakat Jepang yang rata-rata berjalan 6.000 langkah per hari, ia mengingatkan jamaah agar tidak “mager” sebagaimana kecenderungan umum masyarakat Indonesia yang hanya mencatat sekitar 3.000 langkah per hari. “Ibadah itu ringan, hanya lima menit. Olahraga juga perlu untuk menjaga metabolisme tubuh,” katanya.

Di akhir Tausiyahnya, Ustadz Khafif mengajak jamaah untuk menjaga istiqamah dalam wirid dan bacaan-bacaan harian seperti Yasin, Al-Waqi’ah, dan Al-Mulk yang dikenal memiliki banyak keutamaan. Ia menekankan bahwa konsistensi ibadah sering kali terasa berat karena lemahnya rohani, namun suasana masjid mampu menguatkan kembali semangat tersebut.

“Kalau di rumah mengantuk dan berat membuka mushaf, datanglah ke masjid. Barokah masjid menambah kekuatan rohani,” tuturnya.

Kajian ditutup dengan doa dan harapan agar jamaah semakin diberi keteguhan iman serta kemampuan menjaga amal baik hingga akhir hayat.