Adab dan Kekuatan Doa bagi Orang Berpuasa
Bojonegoro – Jamaah shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam kembali mendapatkan siraman rohani melalui kajian Shubuh yang membahas tentang adab doa dan kekuatan doa bagi orang yang berpuasa, bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan, Ahad (1/3/2026).
Bojonegoro – Jamaah shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam kembali
mendapatkan siraman rohani melalui kajian Shubuh yang membahas tentang adab
doa dan kekuatan doa bagi orang yang berpuasa, bertepatan dengan momentum
bulan suci Ramadan, Ahad (1/3/2026).
Dalam
pembukaannya, Ustadz Ali Mujahidin mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa
memanjatkan puji syukur karena masih dipertemukan dengan Ramadan tahun ini.
Shalawat dan salam juga disampaikan kepada junjungan umat Islam, Muhammad,
dengan harapan kelak seluruh umat mendapatkan syafaat beliau di hari akhir.
Ustadz
Ali Mujahidin menegaskan bahwa dalam Islam, hampir seluruh aktivitas kehidupan
diawali dan diakhiri dengan doa. Sejak bangun tidur hingga kembali tidur, umat
Islam dianjurkan untuk berdoa. Bahkan dalam perkara sederhana seperti makan,
berpakaian, hingga memulai pekerjaan, doa selalu diajarkan.
“Ini
menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya lemah dan fakir di hadapan Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Allah untuk
mengakui keterbatasan dan memohon pertolongan-Nya,” ujarnya.
Ia
juga menyinggung adanya beragam tradisi doa di tengah masyarakat yang perlu
diluruskan agar sesuai dengan tuntunan syariat.
Mengutip
pendapat Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, Ustadz Ali Mujahidin
menjelaskan sepuluh adab dalam berdoa.
Pertama,
memilih waktu yang mustajab, yakni waktu-waktu yang dijanjikan sebagai saat
dikabulkannya doa. Waktu tersebut meliputi tahunan seperti Hari Arafah, bulanan
seperti bulan Ramadan, mingguan seperti hari Jumat, dan harian seperti
sepertiga malam terakhir. Pada sepertiga malam terakhir, Allah disebut “turun”
ke langit dunia dan menawarkan pengabulan doa bagi siapa saja yang memohon,
meminta, dan memohon ampun.
Kedua,
berdoa dalam kondisi istimewa seperti saat hujan, antara azan dan iqamah, serta
dalam suasana khusyuk. Ketiga, menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan
saat berdoa, sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Keempat, merendahkan suara dan
tidak berlebihan dalam melafalkan doa. Kelima, tidak memaksakan penggunaan
sajak atau kalimat berlebihan yang dapat mengaburkan makna doa. Keenam,
menghadirkan hati dengan penuh kekhusyukan. Ketujuh, yakin bahwa doa akan
dikabulkan dan tidak lalai saat memohon. Kedelapan, bersungguh-sungguh dan
tidak main-main dalam berdoa. Kesembilan, memulai doa dengan hamdalah dan shalawat
kepada Nabi dan terakhir, bertaubat dan ikhlas sebelum memohon kepada Allah.
Sebagai
ilustrasi, Ustads Ali Mujahidin mengisahkan peristiwa pada masa Nabi Musa
ketika Bani Israil memohon hujan namun belum dikabulkan karena adanya dosa di
antara mereka. Setelah pelaku dosa bertaubat, hujan pun turun.
Dalam
kajian tersebut juga disampaikan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Amr
ibn al-As, bahwa Rasulullah bersabda: orang yang berpuasa memiliki doa yang
tidak akan ditolak, terutama saat waktu berbuka.
Karena
itu, jamaah diajak untuk memperbanyak doa selama Ramadhan, khususnya menjelang
berbuka puasa, agar ibadah yang dijalankan diterima Allah dan diberikan
kesempatan kembali bertemu Ramadan di tahun mendatang.
Sebagai
penutup, Ustadz Ali Mujahidin menyampaikan kisah dua sahabat pada masa
Rasulullah. Salah satu meninggal lebih dahulu dalam keadaan syahid, sementara
yang lain wafat setahun kemudian. Dalam sebuah mimpi, sahabat yang wafat
belakangan justru lebih dahulu masuk surga karena ia masih diberi kesempatan
berjumpa dengan Ramadan dan memanfaatkan bulan tersebut dengan sebaik-baiknya.
Kajian Shubuh pun ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah mampu mengoptimalkan bulan Ramadan sebagai momentum memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta memperkuat hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
