Pentingnya Kehalalan dan Ilmu Ibadah
Kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan menghadirkan Ustadz Miftahur Rohman. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya menjaga keikhlasan ibadah, memahami ilmu dasar agama, serta memastikan kehalalan dalam setiap aspek kehidupan, Selasa (7/4/2026).
Kajian
rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan
menghadirkan Ustadz Miftahur Rohman. Dalam tausiyahnya, ia menekankan
pentingnya menjaga keikhlasan ibadah, memahami ilmu dasar agama, serta
memastikan kehalalan dalam setiap aspek kehidupan,
Mengawali
tausiyahnya, Ustadz Miftahur Rohman mengucapkan salam serta mengajak jamaah
untuk saling memaafkan, mengingat suasana masih dalam bulan Syawal. Ia
mengingatkan bahwa memaafkan sesama merupakan bagian dari kewajiban umat Islam,
sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam
penyampaiannya, ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat
kesehatan jasmani dan rohani yang diberikan Allah SWT. Dengan nikmat tersebut,
umat Islam dapat terus menjalankan perintah agama dan meningkatkan ketakwaan.
Ustadz
Miftahur Rohman menegaskan bahwa shalat tidak akan diterima tanpa wudhu yang
benar. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib memahami tata cara bersuci secara
tepat sesuai dengan tuntunan syariat.
“Ilmu
tentang wudhu harus benar-benar dipahami. Jika wudhu tidak sah, maka salat pun
tidak akan diterima oleh Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia
juga menyinggung adanya perbedaan pendapat di kalangan madzhab terkait tata
cara wudhu, namun menekankan bahwa yang terpenting adalah memahami dan
menjalankan sesuai dengan ilmu yang benar.
Dalam
bagian lain tausiyahnya, Ustaez Miftahur Rohman mengingatkan bahaya bersedekah
menggunakan harta yang diperoleh secara tidak halal. Ia menyampaikan bahwa
sedekah semacam itu tidak hanya tidak diterima, tetapi juga dapat berakibat
buruk bagi pelakunya.
Mengutip
hadits Nabi, ia menjelaskan bahwa terdapat balasan berat bagi orang yang
beramal menggunakan harta haram, termasuk gambaran siksa di akhirat.
“Jangan
sampai kita bersedekah dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Bukan pahala
yang didapat, justru bisa mendatangkan azab,” tegasnya.
Lebih
lanjut, ia menjelaskan bahwa keimanan seseorang akan terus meningkat selama ia
menjaga diri dari mengonsumsi hal-hal yang haram. Sebaliknya, makanan atau
penghasilan yang tidak halal dapat merusak keimanan dan menghambat peningkatan
ketakwaan.
Pesan
ini disampaikan sebagai nasihat agar umat Islam lebih berhati-hati dalam
mencari dan mengonsumsi rezeki.
Ustadz
Miftahur Rohman juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan para
ulama. Menurutnya, menjauh dari ulama dapat menyebabkan hati menjadi keras dan
sulit menerima kebenaran.
Ia
mengkritisi fenomena sebagian masyarakat yang gemar menghadiri pengajian
bersifat hiburan, namun enggan mendalami ilmu agama secara serius, terutama
terkait hukum-hukum syariat.
“Orang
yang menjauh dari ulama, hatinya bisa mati dan sulit menerima nasihat,”
ungkapnya.
Di
akhir tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an,
tetapi juga mengamalkan isinya. Ia menegaskan bahwa orang yang membaca
Al-Qur’an namun tidak menjalankan perintah dan larangannya, diibaratkan seperti
mengabaikan petunjuk yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Kajian Shubuh tersebut ditutup dengan harapan agar jamaah dapat terus meningkatkan kualitas ibadah, memperdalam ilmu agama, serta menjaga kehalalan dalam kehidupan sehari-hari.