Detail Berita

Tafsir Surat Maryam Ayat 16

Kegiatan kajian Shubuh kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro bersama KH. A. Maimun Syafi’i sebagai pengisi. Dalam kesempatan tersebut, beliau melanjutkan pembahasan tafsir Al-Qur’an, khususnya Surat Maryam ayat 16, yang mengisahkan perjalanan spiritual Sayyidah Maryam, Sabtu (11/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kegiatan kajian Shubuh kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro bersama KH. A. Maimun Syafi’i sebagai pengisi. Dalam kesempatan tersebut, beliau melanjutkan pembahasan tafsir Al-Qur’an, khususnya Surat Maryam ayat 16, yang mengisahkan perjalanan spiritual Sayyidah Maryam, Sabtu (11/4/2026).

Kajian diawali dengan pembukaan dan doa bersama, kemudian dilanjutkan pembacaan ayat Al-Qur’an serta penjelasan makna yang terkandung di dalamnya. KH. Maimun Syafi’i menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan kondisi Sayyidah Maryam yang mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di arah timur Baitul Maqdis untuk fokus beribadah kepada Allah.

Dalam penjelasannya, beliau menekankan bahwa tindakan Maryam tersebut merupakan bentuk uzlah atau menyendiri demi meningkatkan kualitas ibadah. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi umat Islam tentang pentingnya menyediakan waktu khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah, di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari.

Selain itu, KH. Maimun Syafi’i juga mengisahkan latar belakang keluarga Maryam, termasuk nazar ibunya yang berharap memiliki anak laki-laki untuk mengabdi di Baitul Maqdis. Namun, Allah memberikan anak perempuan, yakni Maryam, yang justru memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya.

Puncak penjelasan dalam kajian ini adalah peristiwa ketika Malaikat Jibril diutus Allah untuk menemui Maryam. Dalam tafsirnya, KH. Maimun menjelaskan bahwa malaikat Jibril datang dalam wujud manusia yang sempurna agar tidak menimbulkan ketakutan pada diri Maryam. Meski demikian, Maryam tetap menunjukkan kehati-hatian dengan memohon perlindungan kepada Allah dari kemungkinan gangguan.

“Sayyidah Maryam mengucapkan doa dengan menyebut sifat Allah ‘Ar-Rahman’, sebagai bentuk permohonan perlindungan sekaligus pengharapan kasih sayang Allah,” terang beliau dalam kajian tersebut.

Beliau juga menambahkan bahwa penggunaan nama Allah yang berbeda dalam doa memiliki makna tersendiri. Menyebut Ar-Rahman, misalnya, menunjukkan harapan akan kasih sayang Allah yang luas, baik di dunia maupun di akhirat.

Kajian ini ditutup dengan pesan agar umat Islam senantiasa menyesuaikan doa dengan kebutuhan serta memahami makna nama-nama Allah dalam kehidupan sehari-hari. Jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti penjelasan, terutama dalam memahami nilai-nilai keteladanan dari kisah Sayyidah Maryam.

Kegiatan kajian Shubuh ini menjadi salah satu agenda rutin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang terus menarik minat masyarakat untuk memperdalam pemahaman agama melalui pendekatan tafsir Al-Qur’an.