Keseimbangan antara Tawakal dan Ikhtiar
Kajian rutin salat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali diisi oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema pentingnya memahami keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan ikhtiar manusia, serta bahaya syirik tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari, Rabu (8/4/2026).
Kajian
rutin salat Subuh di Masjid Agung Darussalam
kembali diisi oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat
tema pentingnya memahami keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan ikhtiar
manusia, serta bahaya syirik tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari, Rabu
(8/4/2026).
Mengacu pada pemikiran ulama
tasawuf, Syekh Abu Thalib Al-Makki, Ustaz Rifki menjelaskan bahwa Allah SWT
memiliki dua sifat utama yang harus dipahami secara seimbang, yaitu Al-Qudrah
(Maha Kuasa) dan Al-Hikmah (Maha Bijaksana).
Menurutnya,
sifat Al-Qudrah menunjukkan bahwa Allah mampu melakukan segala sesuatu tanpa
perantara, seperti menyembuhkan tanpa obat atau memberi rezeki tanpa usaha.
Namun, di sisi lain, Allah juga memiliki sifat Al-Hikmah yang berjalan melalui
hukum sebab-akibat (sunatullah).
“Kalau ingin kenyang, harus makan.
Kalau ingin punya anak, harus melalui proses pernikahan. Ini bagian dari hikmah
Allah yang tidak boleh diabaikan,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar umat Islam
tidak terjebak pada salah satu sisi saja. Terlalu bergantung pada kekuasaan
Allah tanpa usaha dapat menjurus pada sikap fatalistik, sementara terlalu
mengandalkan sebab-akibat tanpa menyadari kuasa Allah dapat mengikis tauhid.
Dalam
penjelasannya, Ustadz Rifki juga menyoroti fenomena syirik khafi
(syirik tersembunyi) yang sering tidak disadari. Salah satunya
adalah ketika seseorang menganggap sebab sebagai penentu utama.
Misalnya, ungkapan “obat ini yang
menyembuhkan saya” atau “gaji ini yang membuat saya hidup” dinilai sebagai
bentuk penyimpangan dalam tauhid jika tidak diiringi keyakinan bahwa Allah
adalah sumber utama segala sesuatu.
“Obat hanyalah sarana, yang
menyembuhkan tetap Allah. Jika tidak hati-hati, ini bisa masuk kategori syirik
secara halus,” tegasnya.
Dalam
kajiannya, Ustadz Rifki juga mengkritik paham yang hanya mengandalkan indra dan
logika semata, seperti kelompok yang menolak hal-hal gaib. Ia menyebut bahwa
pendekatan semacam itu tidak cukup untuk memahami kebenaran secara utuh.
Menurutnya, dalam Islam terdapat
sumber pengetahuan lain seperti wahyu dan ilham, yang tidak bisa dijangkau oleh
indra manusia.
“Tidak semua yang tidak terlihat
itu tidak ada. Keimanan kepada yang gaib justru menjadi ciri utama orang
bertakwa,” ujarnya.
Ia
juga menyinggung pentingnya iman kepada hal-hal gaib, seperti keberadaan surga
dan neraka yang diyakini telah diciptakan. Hal ini diperkuat dengan dalil
Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Sebagai contoh nyata, ia mengangkat
keteguhan iman masyarakat di wilayah konflik seperti Palestina, yang tetap
menjalankan ibadah meski dalam kondisi sulit.
“Di saat kondisi sulit, justru di
situlah kualitas iman diuji. Bahkan sedekah kecil dalam kondisi sempit bisa
lebih besar nilainya dibanding sedekah besar saat lapang,” jelasnya.
Kajian
ditutup dengan ajakan untuk terus memperkuat tauhid, menjauhi segala bentuk
syirik baik yang tampak maupun tersembunyi, serta menjaga keseimbangan antara
usaha dan tawakal.
Ustadz Ahmad Rifki Azmi berharap kajian ini dapat menjadi bekal bagi jamaah dalam menjalani kehidupan yang lebih selaras dengan ajaran Islam, serta meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.
