Tiga Syarat Menjadi Penghuni Surga
Kegiatan kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar bersama Ustadz Kholillur Rochman. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tafsir Al-Qur’an, khususnya dari Surat Hud ayat 24, yang menjelaskan tentang syarat seseorang menjadi penghuni surga (ashabul jannah), Ahad (12/4/2026).
Kegiatan
kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar bersama Ustadz
Kholillur Rochman. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tafsir Al-Qur’an,
khususnya dari Surat Hud ayat 24, yang menjelaskan tentang syarat
seseorang menjadi penghuni surga (ashabul jannah), Ahad (12/4/2026).
Dalam
pembukaannya, Ustadz Kholillur mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur
kepada Allah atas nikmat kehidupan dan kesempatan yang masih diberikan,
termasuk kesempatan bangun di waktu Subuh untuk beribadah.
Dalam
penjelasannya, ia menyampaikan bahwa terdapat tiga syarat utama agar
seseorang layak disebut sebagai penghuni surga, bukan sekadar pengunjung: Iman
kepada Allah (Tauhid), syarat pertama adalah memiliki keimanan yang benar kepada
Allah, yakni tidak menyekutukan-Nya (tidak berbuat syirik). Iman bukan sekadar
keyakinan dalam hati, tetapi harus murni hanya kepada Allah semata, sebagaimana
dalam kalimat tauhid la ilaha illallah. Ia menegaskan bahwa seseorang
yang masih menyekutukan Allah tidak termasuk dalam kategori orang beriman yang
dijanjikan surga.
Amal
Saleh sebagai Bukti Iman, syarat kedua
adalah melakukan amal saleh sebagai bentuk pembuktian dari keimanan. Amal saleh
mencakup ibadah seperti salat, serta perbuatan baik kepada sesama manusia.
Namun,
ia menekankan bahwa yang membedakan amal baik seorang Muslim dengan non-Muslim
adalah landasan imannya. Jika amal dilakukan atas dasar iman kepada
Allah, maka itulah yang disebut amal saleh.
Berserah
Diri kepada Allah (Ikhlas dan Tawadhu’), syarat
terakhir adalah wa akhbatu ila rabbihim, yaitu berserah diri sepenuhnya
kepada Allah. Sikap ini mencerminkan ketundukan, rasa takut (khasyiah),
dan keikhlasan dalam beribadah.
“Takut
kepada Allah bukan berarti menjauh, tetapi justru semakin mendekat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahaya sifat sombong dalam beribadah, yang dapat menghapus
nilai amal jika tidak disertai keikhlasan.
Di
akhir kajian, Ustadz Kholillur menyampaikan pesan mendalam tentang motivasi
seorang Muslim dalam menggapai surga. Menurutnya, tujuan utama bukanlah sekadar
kenikmatan seperti makanan lezat atau bidadari, melainkan kerinduan untuk
bertemu Rasulullah Muhammad ?.
“Alasan
kita ingin masuk surga adalah karena di dalamnya ada Rasulullah. Kita ingin
bertemu beliau,” ungkapnya.
Kajian
Shubuh ini ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah dapat memenuhi tiga
syarat tersebut dan benar-benar menjadi penghuni surga yang kekal di dalamnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rutinitas Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dalam meningkatkan pemahaman keislaman masyarakat melalui kajian tafsir yang aplikatif dan mudah dipahami.
