Detail Berita

Peningkatan Kualitas Ibadah Pasca Ramadan

Kajian Subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Tsalis dengan mengangkat tema peningkatan kualitas ibadah setelah bulan Ramadan. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi amal dan memperbaiki pola pikir (mindset) ke arah yang lebih baik di bulan Syawal, Senin (5/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian Subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh Ustadz Tsalis dengan mengangkat tema peningkatan kualitas ibadah setelah bulan Ramadan. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi amal dan memperbaiki pola pikir (mindset) ke arah yang lebih baik di bulan Syawal, Senin (5/4/2026).

Mengawali tausiyahnya, Ustadz Tsalis mengajak jamaah untuk bersyukur karena masih diberi kesehatan dan kesempatan menjalani Ramadan serta memasuki bulan Syawal. Ia juga mengingatkan bahwa zakat fitrah menjadi penyempurna amal Ramadan yang sebelumnya “tergantung” antara langit dan bumi.

“Dengan zakat fitrah, amal Ramadan kita diangkat oleh Allah SWT. Maka semoga seluruh ibadah yang telah dilakukan diterima oleh Allah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bulan Syawal seharusnya menjadi momentum peningkatan kualitas ibadah, bukan justru penurunan. Menurutnya, perubahan mindset sangat penting, dari yang sebelumnya merasa berat menjalankan ibadah menjadi lebih ringan dan bahkan merindukannya.

Ustadz Tsalis menggambarkan bahwa selama Ramadan, umat Islam dilatih untuk menjalani dua bentuk ibadah utama, yaitu sabar saat berpuasa dan syukur saat berbuka. Pola ini, kata dia, seharusnya berlanjut dalam kehidupan sehari-hari sehingga seluruh aktivitas manusia bernilai ibadah.

“Dalam 24 jam kehidupan kita, semuanya bisa menjadi ibadah, baik saat beraktivitas maupun saat beristirahat, selama diniatkan karena Allah,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an. Namun, ia menegaskan bahwa orientasi utama tetap harus pada akhirat, tanpa melupakan kebutuhan dunia.

Dalam ceramahnya, Ustadz Tsalis mengibaratkan kehidupan manusia seperti ibadah puasa, dimulai dari “fajar” sebagai simbol kelahiran hingga “maghrib” sebagai simbol kematian. Ia mengingatkan agar manusia menjaga amalnya agar tidak “batal” di tengah perjalanan hidup.

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, saat berbuka dan saat bertemu Allah. Begitu pula kehidupan manusia, ada kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan saat kembali kepada Allah,” tuturnya.

Selain itu, ia menyampaikan tiga amalan utama yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan derajat seseorang, yaitu menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, menunggu waktu salat dengan penuh kesiapan, serta memperbanyak langkah menuju masjid.

Ia mencontohkan para sahabat Nabi yang tetap bersemangat berjalan jauh menuju masjid karena setiap langkahnya dicatat sebagai pahala oleh Allah SWT.

“Setiap langkah menuju masjid tidak sia-sia, semuanya dicatat oleh Allah dan menjadi sebab diangkatnya derajat kita,” ungkapnya.

Menutup kajian, Ustadz Tsalis mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan bulan Syawal sebagai awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik.

“Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung,” pesannya.

Kajian diakhiri dengan doa bersama, dengan harapan seluruh jamaah dapat istiqamah dalam beribadah serta mendapatkan keberkahan hingga hari kiamat.