Detail Berita

Khusyuknya Sholat, Kunci Diterimanya Amal

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh KH. Hilmi Al Jumadi dengan menekankan pentingnya kekhusyukan dalam shalat sebagai kunci utama diterimanya seluruh amal ibadah, Selasa (6/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diisi oleh KH. Hilmi Al Jumadi dengan menekankan pentingnya kekhusyukan dalam shalat sebagai kunci utama diterimanya seluruh amal ibadah, Selasa (6/4/2026).

Dalam tausiyahnya, KH. Hilmi Al Jumadi mengajak jamaah untuk bersyukur atas nikmat iman, Islam, serta kesehatan yang masih diberikan Allah SWT sehingga dapat terus beribadah, khususnya di bulan Syawal pasca-Ramadhan.

Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak hanya menjadi “hamba Ramadhan”, tetapi tetap istiqamah dalam beribadah sepanjang waktu. Menurutnya, tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, sehingga konsistensi ibadah harus terus dijaga.

“Jangan sampai kita hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan, tetapi menurun setelahnya. Kita harus menjadi hamba Allah, bukan hamba Ramadhan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Dalam kajian tersebut, KH. Hilmi Al Jumadi menjelaskan bahwa shalat merupakan amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa jika shalat seseorang baik, maka seluruh amal lainnya akan ikut baik. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka amal lainnya juga tidak akan diterima.

Beliau juga menekankan pentingnya mencapai kekhusyukan dalam shalat, yakni menghadirkan hati dan menjaga anggota tubuh agar tetap fokus dalam beribadah. Menurutnya, khusyuk berarti meninggalkan hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi saat menghadap Allah SWT.

“Ciri orang beruntung adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya. Namun, kita harus jujur, sering kali pikiran kita masih ke mana-mana saat shalat,” ungkapnya.

Untuk menyempurnakan kekurangan dalam shalat wajib, KH. Hilmi Al Jumadi menganjurkan jamaah untuk memperbanyak shalat sunnah, seperti qabliyah dan ba’diyah. Ia menjelaskan bahwa shalat sunnah dapat menjadi penutup kekurangan dalam shalat fardu.

Beliau juga menyoroti keutamaan shalat sunnah qabliyah Subuh yang disebut lebih baik dari dunia dan seisinya. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya melaksanakan shalat dua rakaat setelah wudhu sebagai salah satu amalan yang dapat mengantarkan seseorang ke surga.

“Surga itu luas, tetapi tidak gratis. Harus diperjuangkan dengan amal ibadah yang sungguh-sungguh,” tegasnya.

Dalam penutupnya, KH. Hilmi Al Jumadi mengajak jamaah untuk terus meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki shalat, serta memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal menuju akhirat.

Kajian ditutup dengan doa bersama, dengan harapan seluruh jamaah diberikan keistiqamahan dalam beribadah dan meraih ridha Allah SWT.