Detail Berita

Tauhid dan Adab dalam Beribadah

Kajian rutin salat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kajian tersebut, ia membahas konsep tauhid dan adab dalam beribadah dengan merujuk pada kitab Al-Hikam karya ulama tasawuf, Ibnu Athaillah As-Sakandari, Jum’at (10/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin salat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kajian tersebut, ia membahas konsep tauhid dan adab dalam beribadah dengan merujuk pada kitab Al-Hikam karya ulama tasawuf, Ibnu Athaillah As-Sakandari, Jum’at (10/4/2026).

Mengawali tausiyah, Ustadz Rifki mengajak jamaah untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sehingga dapat melaksanakan salat Subuh berjamaah serta mengikuti kajian ilmu agama.

Dalam penjelasannya, Ustadz Rifki menekankan bahwa seorang hamba harus menjaga adab (etika) dalam beribadah kepada Allah. Ia mengingatkan agar manusia tidak menuntut balasan atas amal ibadah yang dilakukan.

“Sebagai hamba, kita tidak layak menuntut Allah untuk membalas amal kita. Justru Allah yang berhak menuntut apakah ibadah kita sudah dilakukan dengan benar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa jika manusia dihisab secara sempurna terkait kualitas ibadahnya, maka tidak ada yang mampu selamat tanpa rahmat Allah.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki juga menjelaskan konsep nisbatul fi’li, yakni menyandarkan segala perbuatan pada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa pada hakikatnya seluruh amal manusia merupakan ciptaan Allah, sementara manusia hanya menjadi perantara.

“Allah yang memberi kemampuan, Allah yang menggerakkan. Amal itu diciptakan oleh Allah, tetapi dinisbahkan kepada manusia agar mendapat pahala,” jelasnya.

Ia mencontohkan bahwa seseorang yang melakukan kebaikan tetap harus menyadari bahwa kemampuan tersebut berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil usaha pribadi.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memahami keseimbangan antara hakikat dan syariat. Menurutnya, melihat segala sesuatu sebagai kehendak Allah (hakikat) tidak boleh membuat seseorang mengabaikan tanggung jawab syariat.

“Dalam satu sisi kita melihat semua dari Allah, tapi di sisi lain kita tetap menjalankan kewajiban sebagai manusia. Keduanya harus berjalan seimbang,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa pemahaman yang tidak seimbang dapat menjerumuskan seseorang pada kesalahan, seperti menyalahkan takdir untuk membenarkan perbuatan dosa.

Ustadz Rifki juga menjelaskan bahwa Allah memiliki berbagai sifat, seperti sifat kasih sayang (Jamal) dan sifat keperkasaan (Jalal). Menurutnya, manusia perlu memahami kedua sisi ini agar memiliki rasa takut sekaligus harap kepada Allah.

Ia mencontohkan bahwa berbagai peristiwa dalam kehidupan, termasuk ujian dan hukuman, merupakan bagian dari cara Allah memperkenalkan sifat-sifat-Nya kepada manusia.

Kajian Subuh tersebut ditutup dengan doa bersama serta harapan agar jamaah semakin memahami ajaran tauhid secara mendalam dan mampu menjaga adab dalam beribadah.

Ustadz Ahmad Rifki Azmi juga mengingatkan jamaah untuk tidak menyalahgunakan konsep takdir sebagai alasan untuk berbuat maksiat, melainkan menjadikannya sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.