Detail Berita

Ikhlas dalam Beramal

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kesempatan tersebut, beliau membahas pentingnya keikhlasan dalam beramal berdasarkan kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, Kamis (2/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan menghadirkan Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kesempatan tersebut, beliau membahas pentingnya keikhlasan dalam beramal berdasarkan kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, Kamis (2/4/2026).

Kajian diawali dengan puji syukur kepada Allah SWT serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga semangat dalam melaksanakan salat Subuh berjamaah serta istiqamah mengikuti majelis ilmu.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan salah satu hikmah dari Al-Hikam yang menyoroti sikap manusia ketika beramal, khususnya terkait kecenderungan mengharapkan balasan dari Allah SWT atas ibadah yang dilakukan.

Menurutnya, dalam perspektif tasawuf, seorang hamba tidak sepatutnya menuntut balasan atas amalnya seolah-olah sedang “bertransaksi” dengan Allah. Sikap tersebut dinilai dapat mengurangi nilai penghambaan (ubudiyah) dan justru menyerupai hubungan muamalah atau transaksi antar manusia.

“Ketika seseorang merasa telah beramal lalu menuntut balasan dari Allah, itu seakan-akan ia menempatkan dirinya setara dalam posisi transaksi. Padahal, sebagai hamba, kita tidak berada pada posisi menuntut,” jelasnya.

Ia mencontohkan, apabila manusia menuntut balasan secara sempurna, maka Allah juga berhak menuntut kesempurnaan dalam ibadah yang dilakukan, baik dari segi lahiriah maupun batiniah. Mulai dari keikhlasan, kekhusyukan, hingga adab dalam menjalankan ibadah.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa jika seseorang telah beribadah namun terhindar dari siksa Allah saja, hal itu sudah merupakan keuntungan besar. Oleh karena itu, seorang hamba seharusnya lebih mengedepankan rasa syukur daripada menuntut balasan.

“Masuk surga bukan semata karena amal kita, tetapi karena rahmat Allah. Maka mintalah kepada Allah dengan penuh harap akan rahmat-Nya, bukan karena merasa berhak,” ujarnya.

Dalam kajian tersebut, juga dijelaskan pentingnya menjaga keikhlasan yang murni dalam beribadah. Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengingatkan bahwa keikhlasan sering kali tercampur dengan berbagai motivasi lain, seperti keinginan dipuji, kesehatan, atau kenyamanan.

Ia menambahkan bahwa Allah SWT mengetahui setiap detail amal, termasuk niat yang tersembunyi dalam hati. Oleh karena itu, seorang hamba perlu terus mengoreksi niatnya agar benar-benar beribadah hanya karena Allah.

Kajian juga menyinggung konsep hudhurul qalbi atau kehadiran hati dalam ibadah. Jamaah diajak untuk menghadirkan kesadaran penuh saat salat, mulai dari takbiratul ihram hingga salam, serta menyadari bahwa segala kemampuan untuk beribadah berasal dari Allah SWT.

Di akhir kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengingatkan bahwa adab seorang hamba adalah merasa malu kepada Allah apabila amalnya belum sempurna, sekaligus tetap berharap pada rahmat dan kebaikan-Nya.