Pentingnya Saling Memaafkan untuk Meraih Ampunan Allah
Kajian Subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Rabu pagi diisi oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kajiannya, ia menekankan pentingnya saling memaafkan sebagai jalan utama untuk memperoleh ampunan Allah SWT dan meraih kebahagiaan di akhirat.
Kajian
Subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Rabu pagi diisi
oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kajiannya, ia menekankan pentingnya saling
memaafkan sebagai jalan utama untuk memperoleh ampunan Allah SWT dan meraih
kebahagiaan di akhirat, Rabu (1/4/2026)
Kajian
yang diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan ini diawali dengan puji syukur
kepada Allah SWT serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ustadz Ahmad Rifki
Azmi mengajak jamaah untuk terus menjaga keistiqamahan dalam melaksanakan salat
Subuh berjamaah dan menghadiri majelis ilmu.
Dalam
tausiyahnya, ia menjelaskan bahwa seseorang tidak akan dapat meraih kenikmatan
surga tanpa mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Hal ini, menurutnya,
sebagaimana tersirat dalam Al-Qur’an bahwa kabar gembira berupa pahala besar
didahului oleh ampunan (maghfirah).
“Setiap
dosa harus diiringi dengan kebaikan yang sepadan untuk menghapusnya,” ujarnya.
Ia mengutip pandangan ulama bahwa dosa yang dilakukan melalui anggota tubuh
tertentu hendaknya ditebus dengan amal kebaikan melalui anggota tubuh yang
sama, seperti menjaga pandangan, lisan, maupun pendengaran.
Selain
itu, ia juga menyinggung pentingnya segera bertaubat sebagaimana dicontohkan
oleh Nabi Adam AS yang langsung memohon ampun setelah melakukan kesalahan. Taubat
yang disertai amal saleh, kata dia, menjadi kunci dihapusnya dosa.
Namun,
Ustadz Ahmad Rifki Azmi menekankan bahwa dosa yang berkaitan dengan sesama
manusia tidak cukup hanya dengan taubat kepada Allah. Seseorang harus terlebih
dahulu meminta maaf kepada pihak yang dizalimi.
“Allah
tidak akan mengampuni dosa kepada sesama manusia sebelum kita mendapatkan maaf
dari orang tersebut,” tegasnya.
Ia
juga mengingatkan bahwa memaafkan merupakan amalan yang berat, namun memiliki
keutamaan besar. Bahkan, dalam Islam, memaafkan disebut sebagai bentuk sedekah
atau infak karena seseorang rela melepaskan haknya untuk membalas.
Dalam
tausiyahnya, ia mengangkat kisah sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang
sempat bersumpah tidak akan memaafkan kerabatnya yang terlibat dalam fitnah
terhadap putrinya, Aisyah RA. Namun setelah turun ayat Al-Qur’an yang
menganjurkan untuk memaafkan, Abu Bakar pun luluh dan kembali memaafkan serta
membantu kerabat tersebut.
“Kalau
kita ingin diampuni Allah, maka kita juga harus belajar memaafkan orang lain,”
jelasnya.
Lebih
lanjut, ia menjelaskan bahwa memaafkan dapat menghilangkan beban hati,
menghindarkan dari dendam, serta menjaga keharmonisan hubungan antar sesama.
Sebaliknya, menyimpan amarah dan keinginan membalas justru akan menimbulkan
beban batin yang berkepanjangan.
Kajian ditutup dengan doa bersama, dengan harapan seluruh jamaah dapat menjadi pribadi yang lebih pemaaf, ikhlas, dan senantiasa mendapatkan ampunan serta ridha dari Allah SWT.
