Detail Berita

Makna Bangkrut di Akhirat

Kajian rutin setelah shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan menghadirkan Ustaz Hasan Nur. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema penting tentang makna “bangkrut” dalam perspektif akhirat serta pentingnya menjaga hubungan sesama manusia, Kamis (9/4/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam kembali digelar dengan menghadirkan Ustaz Hasan Nur. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema penting tentang makna “bangkrut” dalam perspektif akhirat serta pentingnya menjaga hubungan sesama manusia, Kamis (9/4/2026).

Mengawali tausiyahnya, Ustadz Hasan Nur mengajak jamaah untuk bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan Allah SWT sehingga dapat menunaikan shalat Shubuh berjamaah. Ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa berharap syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Hasan Nur mengutip hadits riwayat Nabi Muhammad yang menjelaskan tentang siapa sebenarnya orang yang bangkrut.

Ia menjelaskan bahwa menurut Nabi, orang bangkrut bukanlah mereka yang kehilangan harta benda di dunia. Sebaliknya, orang bangkrut adalah mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa banyak amal ibadah seperti shalat, puasa, dan zakat, namun habis karena menzalimi orang lain.

“Orang yang rajin ibadah, tetapi suka menyakiti, mengambil hak orang lain, atau berbuat zalim, maka pahala ibadahnya akan diberikan kepada orang yang dizalimi,” ujarnya.

Ustadz Hasan Nur menegaskan bahwa dosa yang berkaitan dengan sesama manusia tidak cukup hanya dengan bertaubat kepada Allah, tetapi harus diselesaikan langsung dengan orang yang bersangkutan.

Ia menggambarkan bahwa di hari kiamat, orang-orang yang pernah dizalimi akan menuntut haknya. Jika pahala pelaku telah habis, maka dosa orang lain akan dipindahkan kepadanya.

“Kalau tidak diselesaikan di dunia, maka di akhirat akan dibayar dengan pahala. Jika pahala habis, maka dosa orang lain yang akan ditanggung,” jelasnya.

Masih dalam suasana bulan Syawal, ia mengajak jamaah untuk saling memaafkan dan menyelesaikan kesalahan dengan sesama. Hal ini dinilai penting agar tidak membawa beban di akhirat.

“Mumpung masih hidup, saling memaafkan. Jangan sampai nanti di akhirat justru kita menjadi orang yang bangkrut,” pesannya.

Selain itu, Ustadz Hasan Nur juga menyoroti fenomena menurunnya semangat ibadah setelah bulan Ramadan. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya rajin beribadah saat Ramadan saja, tetapi mampu menjaga konsistensi (istiqamah) di bulan-bulan berikutnya.

Ia menyebut istilah “hamba Ramadan” sebagai peringatan bagi mereka yang hanya giat beribadah di bulan tersebut, namun lalai setelahnya.

“Ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan harus dipertahankan. Jangan sampai setelah Ramadan, semangat ibadah justru menurun,” ujarnya.

Kajian Shubuh tersebut ditutup dengan doa bersama dan permohonan maaf dari penceramah kepada jamaah. Ustadz Hasan Nur berharap materi yang disampaikan dapat menjadi pengingat agar umat Islam lebih berhati-hati dalam menjaga amal ibadah dan hubungan sosial.

Ia juga mengajak seluruh jamaah untuk terus meningkatkan kualitas ibadah serta menjaga keikhlasan dan hubungan baik dengan sesama, sebagai bekal menghadapi kehidupan di akhirat.