Adab Dzikir dan Membaca Al-Qur’an
Kajian rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali diikuti jamaah dari berbagai kalangan. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Kholidin menyampaikan tausiyah tentang adab berzikir dan membaca Al-Qur’an berdasarkan penjelasan para ulama dalam kitab klasik Islam, Selasa (5/5/2026).
Kajian
rutin setelah salat Subuh di Masjid Agung
Darussalam kembali diikuti jamaah dari berbagai kalangan. Dalam
kesempatan tersebut, Ustadz Kholidin menyampaikan tausiyah tentang adab
berzikir dan membaca Al-Qur’an berdasarkan penjelasan para ulama dalam kitab
klasik Islam, Selasa (5/5/2026).
Mengawali kajian, Ustadz Kholidin
mengajak jamaah menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para
ulama, orang tua, dan keluarga yang telah wafat. Setelah itu, beliau mulai
membahas isi kitab karya Imam An-Nawawi mengenai tata cara dan adab berdzikir
yang baik.
Dalam penjelasannya, ia menyebut
bahwa posisi terbaik saat berdzikir adalah dalam keadaan tenang, khusyuk, dan
menghadap kiblat apabila memungkinkan. Namun demikian, zikir tetap
diperbolehkan dalam berbagai keadaan, baik saat berdiri, duduk, maupun
berbaring, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 190–191.
“Dzikir itu tidak harus selalu
dalam posisi tertentu. Bahkan berpikir tentang ciptaan Allah dan mencari ilmu
juga termasuk bentuk dzikir kepada Allah SWT,” ujar Ustadz Kholidin di hadapan
jamaah.
Ia juga menyinggung riwayat
Sayyidah Aisyah RA yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW tetap membaca
Al-Qur’an dan berdzikir dalam berbagai keadaan. Dari penjelasan itu, Ustadz
Kholidin mengingatkan pentingnya menjaga kesucian ketika membaca Al-Qur’an,
termasuk saat menggunakan aplikasi Al-Qur’an digital di telepon genggam.
Selain membahas adab dzikir, Ustadz
Kholidin menekankan pentingnya menjaga kebersihan badan, pakaian, dan mulut
ketika hendak beribadah. Menurutnya, seorang muslim dianjurkan menjaga
kebersihan serta memakai wewangian ketika berada di masjid maupun saat berdzikir.
Ia juga menjelaskan beberapa
keadaan yang dimakruhkan untuk berzikir atau membaca Al-Qur’an, seperti saat
berada di toilet atau ketika sedang buang hajat. Meski demikian, umat Islam
tetap dianjurkan memperbanyak dzikir dalam aktivitas sehari-hari di luar
kondisi tersebut.
Dalam kajian itu, Ustadz Kholidin
turut mengingatkan jamaah agar tidak malas membaca Al-Qur’an dan membiasakan
diri memperbanyak bacaan ayat suci, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Ia
juga mengajak jamaah untuk lebih mencintai majelis ilmu dan shalat berjamaah di
masjid.
Kajian Shubuh berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekhusyukan. Di akhir tausiyah, Ustadz Kholidin berharap seluruh jamaah senantiasa diberikan tambahan ilmu, keimanan, serta termasuk golongan hamba yang dekat dengan Allah SWT.
