Detail Berita

Al-Qur’an Mengobati Hati dan Menjaga Keharmonisan Sosial

Bojonegoro – Kajian Shubuh Ramadhan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Dalam kajian yang disampaikan oleh Ustadz Yogi Prana Izza, jamaah diajak memahami fungsi Al-Qur’an sebagai nasihat, obat hati, petunjuk hidup, sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman, Senin (9/3/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro – Kajian Shubuh Ramadhan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Dalam kajian yang disampaikan oleh Ustadz Yogi Prana Izza, jamaah diajak memahami fungsi Al-Qur’an sebagai nasihat, obat hati, petunjuk hidup, sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman, Senin (9/3/2026).

Di awal tausiyahnya, Ustadz Yogi mengajak jamaah untuk bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah SWT menjalani ibadah di bulan suci Ramadan. Menurutnya, kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah.

“Alhamdulillah sampai detik ini Allah masih mentakdirkan kita berada di bulan suci Ramadan. Mudah-mudahan kesempatan ini bisa kita maksimalkan dalam ketaatan kepada Allah dan seluruh amal kita tercatat sebagai amalan yang diterima,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kitab suci tersebut memiliki empat fungsi utama bagi manusia, yaitu sebagai mau’idah (nasihat), syifa’ (obat bagi hati), huda (petunjuk), dan rahmat bagi orang-orang beriman.

Ustadz Yogi menjelaskan bahwa istilah mau’idah memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar nasihat biasa. Mau’idah adalah kebaikan yang disampaikan dengan cara yang mampu langsung menyentuh dan melembutkan hati.

“Kalau nasihat biasanya hanya memuaskan pikiran, tetapi mau’idah itu bisa langsung menghujam ke hati, melembutkan, dan menyadarkan manusia,” jelasnya.

Sebagai contoh, ia mengutip ayat dalam Al-Qur’an yang mengingatkan orang beriman agar menjauhi prasangka buruk. Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa.”

Menurutnya, prasangka buruk sering kali dianggap sepele karena tidak memiliki sanksi hukum seperti pencurian atau perampokan. Namun justru karena berada di wilayah hati dan pikiran, penyakit ini hanya dapat disembuhkan oleh kekuatan iman.

“Orang yang mencuri atau merampok jelas hukumnya dan bisa dipenjara. Tetapi orang yang berprasangka buruk tidak ada hukumannya di dunia. Maka yang bisa mengobatinya hanyalah iman dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi,” terangnya.

Ustadz Yogi menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan peringatan secara berurutan mengenai dampak buruk prasangka. Ketika prasangka buruk muncul dalam pikiran, seseorang cenderung ingin membuktikannya dengan mencari-cari kesalahan orang lain.

Inilah yang disebut tajasus, yaitu tindakan mencari-cari aib atau kekurangan orang lain.

Ia menggambarkan perilaku ini seperti orang yang sedang bertinju. Seseorang yang terlalu sibuk menyerang lawannya sering lupa menjaga pertahanannya sendiri.

“Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain seperti petinju yang terus memukul tetapi lupa bertahan. Padahal tidak ada manusia yang sempurna dan setiap orang pasti memiliki kekurangan,” katanya.

Untuk memudahkan pemahaman, ia juga memberikan perumpamaan antara lalat dan lebah madu. Lalat selalu mencari luka dan kotoran, sementara lebah justru mencari bunga yang menghasilkan madu.

“Orang yang gemar mencari keburukan orang lain itu seperti lalat yang hanya mencari luka. Padahal orang yang bijak seharusnya seperti lebah yang mencari hal-hal baik,” jelasnya.

Tahapan berikutnya setelah prasangka dan mencari aib adalah ghibah, yaitu membicarakan keburukan orang lain di belakangnya.

Dalam Al-Qur’an, perbuatan ini diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Ustadz Yogi menjelaskan bahwa orang yang digunjingkan diposisikan seperti orang mati yang tidak mampu membela diri.

“Orang yang sudah meninggal tidak bisa menjawab ketika dibicarakan keburukannya. Begitu pula orang yang digunjingkan, ia tidak bisa membela diri ketika kita membicarakannya di belakang,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa Allah SWT memiliki sifat Sattar, yaitu Maha Menutupi aib hamba-Nya. Karena itu manusia seharusnya meneladani sifat tersebut dengan tidak membuka atau mencari-cari kekurangan orang lain.

“Andaikan dosa dan kesalahan kita dibuka oleh Allah, mungkin tidak ada orang yang mau duduk di dekat kita. Maka janganlah kita membuka aib orang lain,” ujarnya.

Selain sebagai nasihat, Al-Qur’an juga disebut sebagai syifa’ lima fi sudur, yaitu obat bagi penyakit dalam dada manusia. Penyakit tersebut meliputi berbagai sifat buruk seperti iri, dengki, prasangka, dan kebencian.

Menurut Ustadz Yogi, Al-Qur’an juga merupakan petunjuk hidup (huda) yang menuntun manusia menuju kebaikan. Hidayah Allah sering kali datang dengan cara yang tidak terduga dan tersembunyi.

Ia mencontohkan beberapa tokoh ulama besar yang pada masa mudanya pernah menjalani kehidupan penuh kesalahan, tetapi kemudian mendapatkan hidayah dan berubah menjadi orang yang saleh.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak boleh mudah berprasangka buruk terhadap orang lain, karena hidayah Allah bisa datang kapan saja.

Dalam penjelasannya, Ustadz Yogi menyebutkan bahwa fungsi terakhir Al-Qur’an adalah sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Rahmat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah yang menjadi kunci keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

Ia menggambarkan rahmat Allah seperti janin yang berada dalam kandungan ibunya. Janin tersebut tidak perlu mencari makan atau minum karena semua kebutuhannya telah dijamin.

“Orang yang mendapatkan rahmat Allah akan merasakan kasih sayang dan perlindungan-Nya dalam hidup,” ujarnya.

Kajian pun ditutup dengan doa agar seluruh jamaah dapat mengambil pelajaran dari Al-Qur’an serta mampu menghindari prasangka buruk, mencari aib, dan ghibah.

“Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan menjadi pengingat untuk memperbaiki diri,” pungkasnya.