Detail Berita

Al-Qur’an sebagai Obat Penyakit Hati

Bojonegoro — KH. Shofiyulloh Mansyur dalam kuliah shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro menekankan kembali peran Al-Qur’an sebagai “obat utama” bagi penyakit hati yang kerap muncul dalam kehidupan manusia. Ceramah yang dibawakan dalam bahasa Jawa tersebut mengurai dua sumber penyakit hati: keraguan dan nafsu, Jum’at (7/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — KH. Shofiyulloh Mansyur dalam kuliah shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro menekankan kembali peran Al-Qur’an sebagai “obat utama” bagi penyakit hati yang kerap muncul dalam kehidupan manusia. Ceramah yang dibawakan dalam bahasa Jawa tersebut mengurai dua sumber penyakit hati: keraguan dan nafsu, Jum’at (7/11/2025).

Mengawali tausiyah, KH. Shofiyulloh Mansyur mengajak jamaah memperbanyak ketakwaan kepada Allah SWT serta memohon syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat kelak. Ayat Al-Qur’an “wa nunazzilu minal qur’ani ma huwa syifa’…” menjadi landasan utama bahwa kitab suci bukan sekadar pedoman, tetapi juga penyembuh batin.

Keraguan: Penyakit yang Tua Usianya

Menurut , KH. Shofiyulloh Mansyur, penyakit hati pertama yang menggerogoti manusia adalah syubhat atau keraguan. Ia memaparkan kisah klasik percakapan iblis pada masa penciptaan Nabi Adam AS. Iblis yang sejatinya percaya kepada kekuasaan Allah, tetap menyimpan sangsi dalam hatinya. “Pertanyaan-pertanyaan iblis kepada malaikat menunjukkan bahwa ia tidak tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah,” ujarnya.

Keraguan serupa, menurut beliau, masih berulang pada manusia masa kini. Banyak orang hanya menerima takdir yang baik, namun memberontak saat diuji. “Ketika mendapat nikmat, kita jarang bercerita. Tapi ketika dapat musibah, kita cepat mengeluh,” katanya.

Ia juga menyinggung kondisi sosial-politik yang kerap membuat masyarakat merasa tak berdaya—mulai korupsi, narkoba, hingga konflik di luar negeri. “Kita ini lemah. Banyak yang tidak kita setujui, tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berbicara,” ucapnya. Namun beliau mengingatkan agar manusia tidak kehilangan keyakinan bahwa Allah mampu membalik keadaan seketika.

Nafsu: Musuh dari Dalam Diri

Sumber penyakit hati kedua adalah nafsu. Menurut KH. Shofiyulloh Mansyur, nafsu yang tidak terkendali membuat seseorang tidak lagi memperhitungkan halal-haram dan cenderung merugikan orang lain.

“Keinginan dunia itu tidak pernah kenyang,” tegasnya. Ia menceritakan ilustrasi seseorang yang diberikan kesempatan memiliki sejauh tanah yang bisa ia kelilingi dalam sehari, tetapi gagal karena ambisi memperluas batas. “Saking penginnya, sampai waktu habis.”

Meski demikian, beliau menegaskan bahwa nafsu bukan untuk dimatikan, melainkan dikendalikan. “Nafsu itu kendaraan. Jika ditundukkan, ia membawa manusia kepada kenikmatan yang benar. Tanpa nafsu, orang tidak bisa menikmati makan, minum, atau ibadah.”

Al-Qur’an sebagai Jalan Penyembuhan

Kedua jenis penyakit hati, keraguan dan nafsu disebutnya hanya dapat diatasi dengan kembali pada Al-Qur’an. Melalui pemahaman tauhid dan keyakinan kepada qada dan qadar, hati manusia dapat terjaga dari kegelisahan dan kesesatan.

“Iman itu berdiri di atas enam perkara. Dan semua itu menjadi penopang agar hati tetap mantap, tidak goyah,” tutupnya.