Al-Qur’an Sumber Ilmu dan Peradaban
Bojonegoro – Kajian Shubuh Ramadan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar dengan penuh khidmat. Dalam kajian yang disampaikan oleh Ustadz Ridwan Hambali, jamaah diajak untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mentadaburi makna yang terkandung di dalamnya, Selasa (10/3/2026).
Bojonegoro
– Kajian Shubuh Ramadan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali digelar
dengan penuh khidmat. Dalam kajian yang disampaikan oleh Ustadz Ridwan Hambali,
jamaah diajak untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan
mentadaburi makna yang terkandung di dalamnya, Selasa (10/3/2026).
Menurut
Ustadz Ridwan, membaca Al-Qur’an tentu memiliki keutamaan besar karena setiap
huruf yang dibaca bernilai pahala. Namun, ia mengingatkan agar umat Islam tidak
berhenti pada aktivitas tilawah semata tanpa berusaha memahami pesan yang
disampaikan oleh Allah SWT melalui kitab suci tersebut.
“Tilawah
dan tadabur harus bersinergi. Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi bacaan
ritual tanpa makna. Kita harus berusaha memahami pesan moral dan nilai-nilai
yang ingin disampaikan Allah melalui Al-Qur’an,” ujarnya di hadapan jamaah.
Dalam
penjelasannya, Ustadz Ridwan mengungkapkan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci
yang memiliki keistimewaan luar biasa. Sejak diturunkan pada abad ke-7 Masehi
kepada Nabi Muhammad SAW hingga saat ini, teks Al-Qur’an tetap terjaga
keasliannya.
Ia
menjelaskan bahwa mushaf Al-Qur’an yang digunakan umat Islam saat ini merupakan
mushaf yang telah dikodifikasi pada masa Khalifah Utsman bin Affan, yang
dikenal dengan Mushaf Utsmani. Sejak saat itu hingga lebih dari 1.400 tahun,
Al-Qur’an tetap terpelihara tanpa perubahan.
“Kalau
dibandingkan dengan kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat, Zabur, atau Injil,
banyak yang mengalami perubahan. Tetapi Al-Qur’an tetap sama seperti ketika
dibaca oleh Rasulullah. Karena Al-Qur’an adalah mukjizat yang kekal hingga hari
kiamat,” jelasnya.
Ustadz
Ridwan juga menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber berbagai disiplin ilmu
dalam tradisi Islam. Banyak ilmu yang lahir dari upaya para ulama untuk
memahami kandungan Al-Qur’an secara lebih mendalam.
Salah
satu contohnya adalah lahirnya ilmu nahwu. Ilmu tata bahasa Arab ini berkembang
setelah para ulama menyadari pentingnya menjaga keakuratan bacaan Al-Qur’an
agar tidak menimbulkan kesalahan makna.
Ia
mencontohkan sebuah ayat yang jika dibaca keliru dapat mengubah maknanya secara
signifikan. Dari sinilah para ulama seperti Abul Aswad ad-Du’ali kemudian
merumuskan ilmu nahwu untuk menjaga ketepatan bacaan Al-Qur’an.
Selain
itu, ada pula ilmu balaghah yang berfungsi untuk memahami keindahan bahasa dan
kedalaman makna yang terkandung dalam setiap ayat Al-Qur’an.
“Ilmu
balaghah ini membantu kita memahami rahasia redaksi Al-Qur’an, mengapa suatu
ayat disusun dengan kata-kata tertentu dan apa makna mendalam yang terkandung
di dalamnya,” katanya.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Ridwan juga menyoroti bagaimana Al-Qur’an memberikan
panduan dalam membangun peradaban manusia yang seimbang antara kehidupan dunia
dan akhirat.
Ia
mencontohkan ayat tentang hukum qisas yang menyatakan bahwa dalam
pelaksanaan qisas terdapat jaminan kehidupan bagi manusia. Menurutnya, ayat tersebut
menunjukkan bahwa keadilan yang ditegakkan secara tegas dapat menjaga
keselamatan masyarakat.
“Ketika
hukum ditegakkan dengan adil, orang akan berpikir seribu kali sebelum melakukan
kejahatan. Inilah salah satu contoh bagaimana Al-Qur’an memberikan panduan
untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Selain
berbicara tentang hukum, Al-Qur’an juga memberikan panduan mengenai hakikat
manusia dan tujuan hidup. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa manusia pertama,
Nabi Adam, diciptakan langsung oleh Allah SWT dari tanah, kemudian dilanjutkan
dengan berbagai bentuk penciptaan manusia lainnya hingga seperti yang terjadi
pada manusia saat ini.
Menurut
Ustadz Ridwan, penjelasan-penjelasan dalam Al-Qur’an tersebut juga menjadi
inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Di
akhir kajian, Ustadz Ridwan mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam
mempelajari agama, terutama di era digital yang memungkinkan siapa saja
menyampaikan tafsir atau pendapat tentang Al-Qur’an melalui media sosial.
Ia
mengutip pesan ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin, yang mengatakan bahwa ilmu
merupakan bagian dari agama sehingga umat Islam harus berhati-hati dalam
memilih sumber belajar.
“Perhatikan
dari siapa kita mengambil ilmu agama. Jangan sampai kita salah mengambil
referensi atau guru,” pesannya.
Ia
juga mengapresiasi kegiatan pengajian tafsir dan tadabur Al-Qur’an yang rutin
digelar di masjid sebagai sarana belajar yang dapat dipercaya dan bersumber
dari ulama yang jelas sanad keilmuannya.
Kajian
pun ditutup dengan doa agar umat Islam senantiasa dibimbing oleh Allah SWT
dalam memahami Al-Qur’an serta diberikan kesempatan untuk kembali bertemu
dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.
“Semoga Allah membimbing kita semua menuju jalan yang diridhai-Nya dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan berikutnya,” pungkasnya.
