Detail Berita

Belajar Husnudzon dari Nabi Ibrahim

Kajian rutin setelah shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam, Selasa pagi, dipenuhi pesan tentang pentingnya husnudzon, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Kajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Khafif Ahmaruddin dengan mengangkat kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai teladan kehidupan umat Islam, Selasa (19/5/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah shalat Shubuh di Masjid Agung Darussalam, Selasa pagi, dipenuhi pesan tentang pentingnya husnudzon, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Kajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Khafif Ahmaruddin dengan mengangkat kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai teladan kehidupan umat Islam, Selasa (19/5/2026).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Khafif menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim mendapat gelar Khalilullah yang berarti kekasih Allah yang sangat dekat dan akrab dengan-Nya. Menurutnya, kedekatan itu lahir dari kepatuhan total Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah serta kemampuannya mendahulukan Allah di atas segala urusan duniawi.

Ia juga mengingatkan jamaah agar selalu mensyukuri nikmat Allah yang sering kali luput disadari manusia. Bahkan, fungsi tubuh yang berjalan normal setiap detik disebutnya sebagai bentuk rahmat Allah yang luar biasa.

Selain itu, Ustadz Khafif menekankan bahwa tanda orang yang benar-benar dekat kepada Allah adalah memiliki kasih sayang dan kepedulian sosial yang tinggi. Ia mencontohkan Nabi Ibrahim yang tidak pernah makan sendirian dan selalu berbagi dengan tamu serta orang lain.

Dalam kajian tersebut, ia juga menyinggung fenomena penyimpangan moral yang terjadi di lingkungan pendidikan agama. Menurutnya, ibadah tanpa ilmu, adab, dan niat yang benar tidak akan membawa seseorang semakin dekat kepada Allah.

“Orang yang benar-benar dekat kepada Allah akan memiliki welas asih, husnudzon, dan mudah melihat kebaikan orang lain,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ustadz Khafif kemudian mengulas kisah Nabi Ibrahim saat mendapat ujian untuk menyembelih Nabi Ismail. Ia menjelaskan bahwa ujian tersebut menjadi bukti ketundukan total Nabi Ibrahim kepada Allah. Dari kisah itu pula lahir pelajaran tentang pengorbanan, keikhlasan, dan pentingnya tetap berprasangka baik kepada Allah dalam situasi apa pun.

Tidak hanya itu, jamaah juga diajak untuk membiasakan husnudzon dalam kehidupan sosial dan berbangsa. Menurutnya, masyarakat tidak boleh terus menerus tenggelam dalam prasangka buruk terhadap keadaan bangsa. Ia mengajak jamaah tetap optimistis serta melihat masih banyak kebaikan dan kepedulian yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia.

Menutup kajiannya, Ustadz Khafif mengajak jamaah mendoakan Indonesia agar menjadi negeri yang aman, makmur, dan dijauhkan dari orang-orang dzalim. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hati dari prasangka buruk serta membiasakan introspeksi diri.