Berbuat Baik kepada Semua Makhluk, Jalan Luas Menuju Ampunan Allah
BOJONEGORO — Jalan mendekatkan diri kepada Allah tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga terbentang luas melalui amal sosial dan sikap welas asih kepada seluruh makhluk hidup. Pesan ini mengemuka dalam kajian hadis di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang membahas cabang-cabang iman, sebagaimana disampaikan Nabi Muhammad SAW, Sabtu (8/11/2025).
BOJONEGORO
— Jalan mendekatkan diri kepada Allah tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi
juga terbentang luas melalui amal sosial dan sikap welas asih kepada seluruh
makhluk hidup. Pesan ini mengemuka dalam kajian hadis di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro yang membahas cabang-cabang iman, sebagaimana disampaikan
Nabi Muhammad SAW, Sabtu (8/11/2025).
Dalam
kajian tersebut dijelaskan bahwa iman memiliki banyak cabang. Ucapan la
ilaha illallah merupakan cabang iman yang tertinggi, sementara tindakan
sederhana seperti menyingkirkan benda berbahaya dari jalan adalah cabang iman
yang paling rendah. Hal itu menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah dapat
ditempuh melalui berbagai jalan, baik melalui dzikir maupun perbuatan nyata
yang memberi manfaat bagi sesama.
Ustadz
Rifki mengulas hadis tentang seorang yang menolong seekor anjing kehausan.
Dengan penuh ketulusan, orang itu turun ke dalam sumur, mengambil air, lalu
memberi minum anjing tersebut meski harus mengorbankan sepatunya. Atas
perbuatan itu, Allah mengampuni dosa-dosanya dan menyelamatkannya dari siksa
neraka. Kisah ini ditegaskan sebagai dalil bahwa kebaikan tidak hanya berlaku
kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk hidup.
Dalam
penjelasannya, Ustadz Rifki menekankan bahwa Islam mengajarkan kasih sayang
yang bersifat universal. Berbuat baik kepada hewan, menjaga lingkungan, dan
tidak menyakiti makhluk yang tidak mengganggu termasuk bagian dari akhlak mulia
yang bernilai ibadah. Sebaliknya, menyakiti makhluk tanpa alasan yang
dibenarkan dapat mendatangkan dosa.
Kajian
juga menyoroti prinsip bahwa balasan selalu sejenis dengan perbuatan. Kebaikan
yang dilakukan dengan ikhlas akan dibalas dengan kebaikan yang setimpal, bahkan
dapat menjadi sebab datangnya hidayah dan taufik untuk melakukan kebaikan berikutnya.
Dari situlah seseorang dapat dibimbing Allah hingga wafat dalam keadaan husnul
khatimah.
Selain
itu, jamaah diingatkan agar berhati-hati dalam memberi penilaian terhadap
keimanan orang lain. Mengkafirkan seseorang disebut sebagai perkara yang sangat
berat dan memiliki konsekuensi besar, sehingga tidak boleh dilakukan secara
serampangan. Islam, menurut pemateri, lebih menekankan sikap rendah hati,
kehati-hatian, dan keluasan pandangan.
Kajian ditutup dengan ajakan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman, tetapi melahirkan dorongan untuk beramal. Ilmu yang benar adalah ilmu yang menumbuhkan kesadaran, kepekaan sosial, dan keinginan untuk berbuat baik, sekecil apa pun bentuknya, sebagai wujud iman dalam kehidupan sehari-hari.
