Berkah dan Keutamaan Sahur
Bojonegoro - Kajian Shubuh di Masjid Darussalam pada Kamis pagi mengangkat tema “Berkah Sahur dan Keutamaannya”. Kyai M. Jauharul Ma’arif membuka tausiyah dengan menegaskan bahwa kesempatan hidup dan beribadah merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang patut disyukuri, terlebih di bulan Ramadhan, Kamis, (26/2/2026).
Bojonegoro
- Kajian Shubuh di Masjid Darussalam pada Kamis pagi mengangkat tema “Berkah
Sahur dan Keutamaannya”. Kyai M. Jauharul Ma’arif membuka tausiyah dengan
menegaskan bahwa kesempatan hidup dan beribadah merupakan nikmat besar dari
Allah SWT yang patut disyukuri, terlebih di bulan Ramadhan, Kamis, (26/2/2026).
Dalam
pengantarnya, Gus Arif menyampaikan bahwa dirinya hadir bukan karena merasa
lebih alim, melainkan karena mendapat amanah dari takmir masjid untuk
menyampaikan materi. Ia juga menyebut telah merujuk sejumlah literatur klasik,
seperti Tafsir karya Ibnu Katsir, serta hadits-hadits dalam Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim.
Dalam
kajiannya, dijelaskan bahwa kata “sahur” memiliki perbedaan makna secara
bahasa. Jika dibaca dengan fathah (sahur), ia merujuk pada makanan yang
dikonsumsi menjelang Subuh. Sementara jika dibaca dengan dhammah (suhur), ia
berarti aktivitas makan pada waktu sahur.
Waktu
sahur sendiri berlangsung sejak pertengahan malam hingga terbit fajar. Di
Indonesia, masyarakat mengenal istilah “imsak”, yakni jeda sekitar 10 menit
sebelum azan Subuh. Gus Arif mengutip riwayat dari Zaid bin Tsabit yang
menyebut jarak antara sahur Nabi Muhammad SAW dan salat Subuh kira-kira
sepanjang bacaan 50 ayat Al-Qur’an.
Kajian
juga mengulas sejarah turunnya Surah Al-Baqarah ayat 187. Sebelum ayat tersebut
turun, pada masa awal Islam, waktu makan bagi orang berpuasa sangat terbatas,
yakni hanya antara Magrib hingga Isya. Bahkan, jika seseorang tertidur sebelum
berbuka, ia tidak diperkenankan makan hingga hari berikutnya.
Dikisahkan
seorang sahabat bernama Qais bin Sirma yang jatuh pingsan karena kelelahan
setelah tidak sempat berbuka dan sahur. Peristiwa itu kemudian dilaporkan
kepada Nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya turun Surah Al-Baqarah ayat 187 yang
memberikan keringanan: umat Islam diperbolehkan makan dan minum pada malam hari
hingga terbit fajar.
Sejak
turunnya ayat tersebut, tata cara puasa yang dijalankan umat Islam menjadi
lebih ringan sebagaimana dipraktikkan hingga sekarang.
Gus
Arif menjelaskan, keberkahan sahur terbagi dalam dua aspek, yakni ukhrawi
(akhirat) dan duniawi. Dari sisi ukhrawi, sahur merupakan bentuk mengikuti
sunah Rasulullah SAW dan pembeda antara puasa umat Islam dengan umat terdahulu.
Dalam
sebuah hadis riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Allah SWT dan para malaikat
bershalawat kepada orang-orang yang bersahur. Shalawat dari Allah dimaknai
sebagai limpahan rahmat dan rida, sedangkan shalawat malaikat berarti
permohonan ampun bagi hamba yang bersahur.
Selain
itu, waktu sahur termasuk saat mustajab untuk berdoa, khususnya pada sepertiga
atau seperenam malam terakhir. Momentum ini dinilai sebagai waktu yang
potensial untuk memanjatkan doa dan memperbanyak zikir.
Adapun
dari sisi duniawi, sahur membantu menjaga stamina selama berpuasa, mencegah
kelelahan berlebihan, serta mengurangi potensi gangguan kesehatan akibat perut
kosong terlalu lama.
Mengutip
informasi dari laman Saudi German Hospital, disebutkan bahwa makan sahur dapat
membantu meningkatkan konsentrasi, menjaga metabolisme tubuh, mencegah gangguan
pencernaan, serta membantu pengendalian berat badan.
Menutup
kajian, Gus Arif mengajak jamaah untuk mensyukuri keringanan yang diberikan
Allah SWT dalam ibadah puasa. Ia menegaskan bahwa sahur bukan sekadar makan
sebelum Subuh, melainkan ibadah yang mengandung banyak manfaat, baik spiritual
maupun kesehatan.
“Dengan
sahur, kita berharap mendapatkan rahmat Allah dan ampunan dari para malaikat,”
ujarnya.
Kajian Subuh tersebut berlangsung khidmat dan diikuti jamaah dengan antusias, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid Darussalam.
