Dampak Puasa bagi Kesehatan
Kajian Shubuh Ramadhan di Masjid Agung Darussalam menghadirkan dr. H. Choled Ubed, Ketua PCNU Bojonegoro. Dalam tausiyahnya, ia mengulas hubungan antara puasa dan kesehatan, baik dari sisi medis maupun spiritual, Selasa, (3/3/2026).
Kajian
Shubuh Ramadhan di Masjid Agung Darussalam
menghadirkan dr. H. Choled Ubed, Ketua PCNU
Bojonegoro. Dalam tausiyahnya, ia mengulas hubungan antara puasa dan
kesehatan, baik dari sisi medis maupun spiritual, Selasa, (3/3/2026).
Di hadapan jamaah, dr. Choled
menjelaskan bahwa secara umum penyakit dapat dibedakan menjadi dua kategori,
yakni penyakit genetika yang sudah ada sejak lahir dan penyakit didapat yang
muncul setelah seseorang menjalani kehidupan dalam kurun waktu tertentu.
Menurutnya, kedua jenis penyakit tersebut sama-sama membutuhkan pengelolaan
yang baik dan tepat.
“Salah satu cara pengelolaan yang
baik dan tepat adalah dengan puasa,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa puasa tidak
hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi
emosional dan metabolisme tubuh. Dari sisi psikologis, puasa melatih
pengendalian diri, memperbaiki emosi, serta menekan ego. Kondisi batin yang
lebih tenang dan ikhlas, kata dia, dapat membantu mengendalikan sejumlah
penyakit.
Sebagai contoh, penderita gangguan
lambung akan lebih mudah mengontrol asam lambung ketika mampu menjaga
ketenangan hati dan menjauhi sifat dendam maupun kebencian. Begitu pula dengan
penderita diabetes dan penyakit jantung. Meski tidak serta-merta menyembuhkan,
puasa yang dijalani dengan baik dinilai dapat membantu mengendalikan kadar gula
darah dan menstabilkan detak jantung.
“Bukan sembuh, tetapi lebih mudah
dikendalikan,” tegasnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa
puasa memberi kesempatan tubuh melakukan proses metabolisme yang jarang terjadi
dalam pola makan biasa. Saat asupan makanan berkurang, tubuh akan memecah
cadangan lemak sebagai sumber energi. Proses ini berdampak pada penurunan kadar
kolesterol, trigliserida, dan LDL, sehingga penyakit terkait kolesterol lebih
terkendali.
Puasa, lanjutnya, juga menjadi
momentum pemulihan (recovery) alami bagi tubuh. Namun manfaat tersebut hanya
dapat diraih jika puasa dijalankan dengan benar, penuh keikhlasan, dan disertai
pengendalian emosi.
Dalam tausiyahnya, dr. Ubed
mengingatkan bahwa respons seseorang dalam menyambut Ramadhan turut memengaruhi
kualitas puasanya. Ia menilai masih ada sebagian orang yang mengeluh sebelum
Ramadhan tiba atau menjalani puasa dengan perasaan terpaksa. Sikap semacam itu,
menurutnya, justru mengurangi nilai dan manfaat puasa.
Sebaliknya, mereka yang menyambut
Ramadhan dengan gembira, memperbanyak sedekah, memberi makan kepada yang
membutuhkan, serta menjaga lisan dan perilaku, akan meraih manfaat lebih besar,
baik secara spiritual maupun kesehatan.
Untuk memudahkan pemahaman jamaah,
ia mengibaratkan kualitas puasa seperti pilihan “tiket perjalanan” dengan kelas
berbeda. Ada tiket kelas tiga, kelas satu, hingga VIP. Setiap pilihan memiliki
konsekuensi sesuai prasyarat yang dijalankan.
“Kalau memilih tiket VIP,
prasyaratnya harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan takwa.
Hasilnya pun akan berbeda,” jelasnya.
Ia menekankan agar jamaah tidak
menyalahkan puasa ketika merasa lemas atau emosional. Menurutnya, kondisi
tersebut wajar karena kadar gula dalam tubuh menurun saat berpuasa. Justru di
situlah letak ujian pengendalian diri.
“Jangan sampai puasa malah jadi
alasan untuk mudah marah. Mestinya puasa membuat kita lebih sabar, lebih banyak
berbuat baik, dan lebih peduli,” ujarnya.
Di akhir kajian, dr. Ubed mengajak
jamaah untuk memilih “tiket terbaik” dalam menjalani Ramadhan, yakni dengan
memperbaiki niat, meningkatkan kualitas ibadah, dan menjaga akhlak. Ia berharap
puasa yang dijalankan dengan benar dapat membawa manfaat optimal, baik bagi
kesehatan fisik maupun ketenangan jiwa.
Kajian tersebut ditutup dengan doa dan harapan agar Ramadhan menjadi momentum perbaikan diri bagi seluruh umat Muslim.
