Doa Harian dan Pentingnya Khusyuk dalam Shalat
Bojonegoro - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, jamaah Masjid Darussalam kembali mengikuti kajian ba’da Subuh yang membahas amaliah harian seorang Muslim. Dalam tausiyah tersebut, Ustadz Tsalis mengingatkan pentingnya menjaga doa sebelum tidur, menghidupkan amalan malam, serta meningkatkan kekhusyukan dalam shalat, Senin (2/2/2026).
Bojonegoro
- Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, jamaah Masjid Darussalam kembali
mengikuti kajian ba’da Subuh yang membahas amaliah harian seorang Muslim. Dalam
tausiyah tersebut, Ustadz Tsalis mengingatkan pentingnya menjaga doa sebelum
tidur, menghidupkan amalan malam, serta meningkatkan kekhusyukan dalam shalat,
Senin (2/2/2026).
Mengawali
kuliah shubuh, Ustadz Tsalis mengajak jamaah bersyukur atas nikmat iman, Islam,
serta kesehatan yang memungkinkan umat melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Ia
juga mengingatkan agar jamaah memohon umur panjang dan kesehatan sehingga dapat
menjalankan ibadah puasa Ramadan.
“Kita
patut bersyukur karena masih diberi kesempatan berkumpul dalam majelis ilmu.
Mudah-mudahan Allah memberi keistiqamahan kepada kita untuk terus menambah ilmu
syariat,” ujarnya di hadapan jamaah.
Dalam
kajian kitab Fathul Qorib Al-Mujib karya Sayyid Alawi bin Abbas
Al-Maliki Al-Hasani, Ustadz Tsalis membahas bab doa yang dianjurkan ketika
hendak tidur dan bangun dari tidur.
Ia
mengutip hadist riwayat Hudzaifah ibn al-Yaman yang menyebutkan bahwa
Rasulullah SAW membaca doa sebelum tidur, “Bismika Allahumma amutu wa ahya”
(Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup). Doa tersebut dimaknai sebagai
bentuk penyerahan diri kepada Allah SWT, mengingat tidur diibaratkan sebagai
kematian sementara.
Saat
bangun tidur, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa syukur atas kehidupan yang
dikembalikan oleh Allah SWT.
Hadistt
lain yang disampaikan, diriwayatkan oleh Abu Mas'ud al-Ansari, menyebutkan
bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah pada malam hari,
maka ayat tersebut mencukupinya. Ustadz Tsalis menjelaskan bahwa dua ayat
terakhir Surah Al-Baqarah dapat menjadi pengganti qiyamul lail bagi yang belum
mampu bangun di sepertiga malam.
“Ini
solusi bagi kita yang belum istiqamah bangun malam. Jangan tinggalkan dua ayat
terakhir Surah Al-Baqarah setiap malam,” katanya.
Selain
itu, ia menyampaikan hadist riwayat Aisyah yang menerangkan kebiasaan
Rasulullah SAW sebelum tidur. Nabi membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan
An-Nas, meniupkan pada kedua telapak tangan, lalu mengusapkannya ke seluruh
tubuh sebanyak tiga kali sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan manusia
maupun jin.
“Rasulullah
saja yang dijaga Allah tetap berikhtiar. Apalagi kita sebagai umatnya,”
ujarnya.
Selain
membahas doa, kuliah shubuh juga menyinggung pentingnya khusyuk dalam shalat.
Mengutip firman Allah SWT, “Qad aflaha al-mu’minun, alladzina hum fi shalatihim
khashi’un” (Sungguh beruntung orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyuk
dalam shalatnya), Ustadz Tsalis menekankan bahwa keberuntungan seorang mukmin
bergantung pada kualitas shalatnya.
Ia
mengakui bahwa banyak orang masih kesulitan menjaga konsentrasi dalam shalat.
Karena itu, ia mengingatkan agar memperbaiki wudhu sebagai kunci awal
kekhusyukan.
“Kalau
ingin shalat khusyuk, mulai dari wudhu yang sempurna. Jangan terburu-buru dan
jangan meninggalkan rukun-rukunnya,” katanya.
Rukun
wudhu seperti niat, membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian
kepala, membasuh kaki hingga mata kaki, serta tertib harus dilaksanakan dengan
benar. Disertai sunnah-sunnah wudhu, seperti membasuh tiga kali dan
mendahulukan anggota kanan, diharapkan mampu menghadirkan kesiapan batin
sebelum shalat.
Ia
juga mengutip hadist riwayat Uqbah ibn Amir yang menyebutkan bahwa siapa yang
berwudhu dengan baik lalu melaksanakan shalat dua rakaat dengan hati dan raga
menghadap Allah SWT, maka surga menjadi jaminannya.
Menutup
kuliah shubuh, Ustadz Tsalis mengajak jamaah mempersiapkan diri menyambut
Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan menjaga amaliah yang diajarkan
Rasulullah SAW. Ia juga mengingatkan pentingnya menghidupkan malam Nisfu
Sya’ban dengan membaca Surah Yasin tiga kali sebagaimana tradisi yang
berkembang di kalangan ulama salaf.
“Semoga
Allah menyampaikan kita pada Ramadan dalam keadaan sehat dan mampu beribadah,”
tuturnya.
Kuliah Shubuh yang rutin digelar di Masjid Darussalam tersebut menjadi salah satu sarana pembinaan umat dalam memperdalam pemahaman syariat sekaligus memperkuat praktik ibadah sehari-hari.