Detail Berita

Dr. KH. Achmad Muzakki : Jadikan Puasa dan Al Qur'an sebagai Penolongmu

Jum’at perdana bulan suci ramadhan tahun ini, pengurus takmir Masjid Agung Darussalam Bojonegoro menghadirkan Dr. KH. Achmad Muzakki, S.Th.I al Haffidz sebagai khotib sekaligus imam jum’at di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Jum’at (7/3/25).

Umum

Jum’at perdana bulan suci ramadhan tahun ini, pengurus takmir Masjid Agung Darussalam Bojonegoro menghadirkan Dr. KH. Achmad Muzakki, S.Th.I al Haffidz sebagai khotib sekaligus imam jum’at di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Jum’at (7/3/25).

Pengurus Takmir Masjid Agung Darussalam H. Achmad Cholil mengatakan bahwasannya Masjid Agung Darussalam Bojonegoro setiap bulan Ramadhan selalu mendatangkan khotib luar daerah untuk memberikan khutbah jum’at sekaligus ceramah ba’da sholat jum’at.

Sementara itu, Dr. KH. Achmad Muzakki, S.Th.I al Haffidz dalam khutbahnya menyampaikan tentang Puasa dan Al Qur’an yang kelak di hari akhir akan memberikan syafa’at kepada orang-orang yang menjalankan dan mengamalkannya.

Lebih lanjut, Kyai yang juga menjadi imam besar di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya ini menjelaskan bahwa puasa dan Al Qur’an adalah dua hal yang sebenarnya saling terikat sebab Ramadhan menjadi bulan yang mulia karena di dalamnya diturunkan Al Qur’an. Dan hal-hal yang berkaitan dengan Al Qur’an akan menjadi mulia. Seperti halnya, malam diturunkannya Al Qur’an menjadi malam yang paling mulia dan disebut malam Lailatu Qodar. Sementara itu, nabi yang paling mulia adalah Nabi Muhammad SAW yang kepadanya diberikan Kitab Al Qur’an. Lalu, malaikat yang paling mulia adalah malaikat Jibril a.s yang membawa dan membacakan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Oleh sebab itu, beliau mengajak kepada jama’ah sholat jum’at untuk menjadi orang-orang yang alim Al Qur’an dan mengajarkannya. Kalau tidak bisa menjadi alim, maka jadilah orang yang mau belajar Al Qur’an.

“Kalau tidak bisa menjadi yang kedua, maka jadilah yang ketiga yakni orang-orang yang mau mendengarkan Al Qur’an. Kalaupun yang ketiga masih juga tidak bisa maka jadilah yang keempat yakni orang-orang yang cinta dengan Al Qur’an” dan jangan menjadi orang yang kelima yakni orang yang tidak mengajarkan, orang yang tidak belajar, orang yang tidak mendengarkan dan orang yang tidak mencintai Al Qur’an. Maka, celakalah orang tersebut”, pungkasnya.