Empat Golongan Manusia Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Bojonegoro - Empat golongan manusia sebagaimana dijelaskan Syekh Abdul Qadir al-Jailani disampaikan oleh Ustadz Hasan Nur dalam Kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Kamis (13/11/2025).
Bojonegoro
- Empat golongan manusia sebagaimana dijelaskan Syekh Abdul Qadir al-Jailani
disampaikan oleh Ustadz Hasan Nur dalam Kajian Shubuh di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro, Kamis (13/11/2025).
Tausiyah
dimulai dengan doa dan salawat, dilanjutkan ungkapan syukur karena jamaah masih
diberi kesehatan, usia panjang, serta kesempatan untuk salat berjamaah.
Penceramah mendoakan agar jamaah diberikan rezeki yang berkah dan dimudahkan
dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Mengutip
nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ustadz Hasan menjelaskan bahwa manusia
terbagi menjadi empat golongan: Golongan pertama: Mereka yang
“tidak memiliki lisan dan tidak memiliki hati”, yakni orang-orang durhaka yang
tidak tersentuh oleh seruan kebaikan. Adzan, pengajian, atau ajakan ibadah
tidak mengetuk hati mereka. Ustadz Hasan mengingatkan jamaah agar tidak meniru
kelompok ini dan menjauhi lingkungan kemaksiatan, termasuk perilaku maksiat
modern seperti judi daring.
Golongan
kedua: Mereka
yang “memiliki lisan tetapi tidak memiliki hati”, yaitu orang yang pandai
berbicara soal agama, hukum, dan hikmah, namun tidak mengamalkannya. Ustadz
Hasan menyoroti fenomena banyaknya orang yang berfatwa tanpa dasar ilmu,
terutama melalui media sosial. “Ilmu tidak hadir secara tiba-tiba. Butuh ngaji,
butuh mondok, butuh proses panjang,” ujarnya.
Golongan
ketiga: Mereka
yang “memiliki hati tetapi tidak memiliki lisan”, yakni orang saleh yang
hatinya bersih, tidak suka menonjolkan diri, dan terjaga dari pandangan buruk.
Mereka tidak banyak berbicara, tetapi istiqamah dalam ibadah. Golongan ini
disebut sebagai wali Allah. Ustadz Hasan mengingatkan jamaah untuk tidak
meremehkan orang sederhana karena bisa jadi mereka termasuk kekasih Allah yang
tersembunyi.
Golongan
keempat: Mereka
yang “belajar, mengajar, dan mengamalkan ilmu”, yakni para penuntut ilmu dan
ulama yang hidupnya diabdikan pada pengajaran agama. Ustadz Hasan mencontohkan
ulama besar seperti Syekh Muhammad Al-Maliki yang tetap merendah meski memiliki
ratusan karya. Golongan inilah yang paling utama dalam pandangan para ulama.
Pada
bagian akhir Tausiyahnya, ustaz Hasan Nur mengutip nasihat Luqman al-Hakim
bahwa manusia pada akhirnya akan dibagi ke dalam tiga bagian: Sepertiga untuk
Allah, yakni ruh yang kembali kepada Sang Pencipta pada waktu yang
ditentukan-Nya. Sepertiga untuk diri sendiri, yakni seluruh amal perbuatan yang
akan dimintai pertanggungjawaban. Sepertiga untuk tanah, yaitu jasad yang pada
akhirnya menjadi bagian belatung, kecuali jasad para hamba saleh dan penghafal
Al-Qur’an.
Akhirnya,
tausiyah ditutup dengan ajakan agar jamaah tidak menunda ibadah maupun
kebaikan. “Berbuat baik jangan ditunda. Salat, sedekah, dan amal saleh adalah
bekal kembali kepada Allah,” katanya.
Ia berdoa agar seluruh jamaah mendapat taufik dan hidayah, dijaga kesehatannya, dilapangkan rezekinya, serta diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah.
