Detail Berita

Empat Golongan yang Tidak Mendapatkan Ampunan Allah

BOJONEGORO – Suasana pengajian setelah sholat Jum'at di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diwarnai pesan kuat tentang syukur dan penguatan iman di bulan Ramadhan. Dalam tausiyahnya, KH. Imam Chambali mengajak jamaah untuk bersyukur karena masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadan, bulan yang penuh ampunan.

Ceramah Jum'at

BOJONEGORO – Suasana pengajian setelah sholat Jum'at di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro diwarnai pesan kuat tentang syukur dan penguatan iman di bulan Ramadhan. Dalam tausiyahnya, KH. Imam Chambali mengajak jamaah untuk bersyukur karena masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadan, bulan yang penuh ampunan.

“Tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadhan. Ada yang wafat beberapa hari sebelum Ramadan tiba. Kita yang masih hidup harus benar-benar bersyukur,” ujarnya di hadapan jamaah, Jum’at (20/2/2026).

KH. Imam Chambali mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa siapa yang berjumpa Ramadhan dalam keadaan beriman, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni Allah SWT. Namun demikian, beliau juga mengingatkan adanya empat golongan yang tidak mendapatkan ampunan tersebut.

Golongan pertama adalah orang yang musyrik, yakni mereka yang menyekutukan Allah. KH. Imam Chambali menegaskan pentingnya menjaga kemurnian tauhid dan tidak menyandarkan keyakinan kepada selain Allah, termasuk dalam urusan rezeki dan nasib.

“Rezeki dan takdir sepenuhnya diatur Allah. Jangan sampai hati masih bergantung pada selain-Nya,” tegasnya.

Golongan kedua adalah orang yang mabuk atau terjerumus narkoba. Beliau mengingatkan para orang tua untuk memberi perhatian serius terhadap pergaulan anak-anak. Selain ikhtiar lahiriah, KH. Imam Chambali juga menganjurkan amalan doa rutin setelah salat Asar, yakni membaca Surah Al-Ikhlas 13 kali, Al-Falaq 1 kali, dan An-Nas 1 kali, sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar anak-anak dijaga Allah SWT.

Golongan ketiga adalah mereka yang memutus tali silaturahim, terutama anak yang durhaka kepada orang tua. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa keberkahan hidup sangat bergantung pada ridha orang tua.

“Tidak ada anak yang hidupnya sengsara jika didoakan orang tuanya. Sebaliknya, anak yang menyakiti hati orang tua akan sulit mendapatkan keberkahan,” katanya.

Golongan terakhir yang diingatkan adalah orang yang gemar bermusuhan. Beliau menyampaikan bahwa perbedaan dalam kehidupan adalah hal yang wajar dan tidak seharusnya menjadi sumber permusuhan, termasuk dalam perbedaan pendapat soal awal Ramadhan.

“Dunia memang tempat perbedaan. Yang penting kita tetap rukun dan tidak menyimpan kebencian,” ujarnya.

Di akhir tausiyah, KH. Imam Chambali mengajak seluruh jamaah untuk menjaga iman, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, serta memanfaatkan Ramadan sebagai momentum pembersihan diri.

Pengajian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah dan keluarga senantiasa dalam lindungan serta pertolongan Allah SWT.