Empat Tanda Orang Celaka dan Bahagia Menurut Nabi Muhammad SAW
Bojonegoro, Ustadz Hasan Nur dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, mengingatkan jamaah agar selalu mawas diri terhadap dosa masa lalu dan tidak terlena dengan amal kebaikan yang telah dilakukan. Menurutnya, sifat mudah melupakan dosa dan gemar membanggakan amal justru menjadi tanda-tanda orang yang merugi di hadapan Allah.
Bojonegoro,
Ustadz Hasan Nur dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, mengingatkan
jamaah agar selalu mawas diri terhadap dosa masa lalu dan tidak terlena dengan
amal kebaikan yang telah dilakukan. Menurutnya, sifat mudah melupakan dosa dan
gemar membanggakan amal justru menjadi tanda-tanda orang yang merugi di hadapan
Allah.
“Di
antara tanda orang yang celaka adalah mereka yang melupakan dosa-dosa masa
lalu, padahal sekecil apa pun dosa tetap tersimpan di sisi Allah,” ujar Ustadz
Hasan dalam tausiyahnya di hadapan jamaah Subuh, Kamis (16/10/2025). Ia
menegaskan, dosa-dosa yang pernah dilakukan, meski telah berlalu puluhan tahun,
tidak serta-merta hilang tanpa tobat yang sungguh-sungguh.
Menurutnya,
rasa bersalah dan penyesalan yang terus hidup di hati seorang mukmin justru
menjadi tanda kesadaran spiritual. “Orang yang masih merasa berdosa akan terus
beristighfar. Tapi orang yang merasa suci, itu tanda bahaya,” ujarnya.
Selain
melupakan dosa, tanda kedua orang celaka adalah membanggakan amal kebaikan.
Ustadz Hasan mencontohkan kebiasaan sebagian orang yang suka menonjolkan
sedekah, ibadah, atau jasa sosialnya. “Kadang orang berkata, ‘itu masjid saya
yang bangun,’ atau ‘saya yang dulu nyumbang sumur.’ Padahal amal itu belum
tentu diterima oleh Allah,” katanya.
Tanda
ketiga, lanjutnya, adalah selalu memandang orang lain lebih tinggi dalam urusan
dunia. Orang seperti ini cenderung iri dan berambisi mengejar kemewahan, hingga
menghalalkan berbagai cara. “Inilah yang sering membuat orang tergelincir,
bahkan sampai korupsi, karena tidak mau kalah dalam urusan dunia,” tuturnya.
Sebaliknya,
dalam urusan agama, orang yang celaka justru melihat orang lebih rendah, merasa
cukup dengan ibadah seadanya dan enggan memperbaiki diri. “Dia berkata,
‘alhamdulillah saya masih salat,’ padahal banyak yang lebih rajin ke masjid,
lebih sering membaca Al-Qur’an,” ujar Ustadz Hasan.
Setelah
menguraikan tanda-tanda orang celaka, Ustadz Hasan menjelaskan ciri-ciri orang
yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Pertama, orang yang selalu ingat
akan dosa-dosa masa lalunya. “Semakin sering mengingat dosa, semakin besar
dorongan untuk beristighfar dan memperbaiki diri,” ujarnya.
Kedua,
orang bahagia adalah mereka yang melupakan amal kebaikan yang telah dilakukan.
Amal baik, katanya, cukup diserahkan kepada Allah tanpa perlu diingat atau
dipamerkan. “Kadang justru yang dibantu yang masih ingat, tapi pelaku kebaikan
sudah lupa. Itulah tanda ketulusan,” katanya.
Tanda
ketiga, dalam urusan dunia, orang bahagia adalah mereka yang melihat ke bawah,
merasa cukup dengan rezeki yang dimiliki, lalu bersyukur. Sedangkan dalam urusan
agama, mereka selalu melihat ke atas, kepada orang yang lebih saleh, agar
terdorong untuk meniru dan memperbaiki diri.
“Kalau
dalam dunia kita menengok yang di bawah, kita akan bersyukur. Tapi kalau dalam
ibadah menengok yang di atas, kita akan termotivasi. Dua hal ini menjadi kunci
bahagia dunia dan akhirat,” ujarnya menegaskan.
Di
akhir ceramah, Ustadz Hasan mengingatkan bahwa seluruh nikmat yang diberikan
Allah, baik kesehatan, umur, rezeki, waktu, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
“Sebelum berbuat sesuatu, pikirkan dulu: apakah ini melanggar aturan Allah atau
tidak. Semua amal, sekecil apa pun, akan dihisab,” pesannya.
Tausiyah
ditutup dengan doa agar jamaah diberi taufik dan hidayah untuk senantiasa taat
kepada Allah serta dijauhkan dari sifat sombong dan lalai. “Semoga kita semua
dikaruniai husnul khatimah dan menjadi hamba yang bahagia dunia dan akhirat,”
tutupnya.
