Etika Bertetangga dan Menjaga Lisan
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali menggelar kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin bersama Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam sesi kali ini, pembahasan difokuskan pada pentingnya menjaga hubungan sosial, khususnya dengan tetangga, serta etika dalam berbicara, Rabu (18/3/2026).
Masjid
Agung Darussalam Bojonegoro kembali menggelar kajian rutin kitab Riyadhus
Sholihin bersama Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam sesi kali ini, pembahasan
difokuskan pada pentingnya menjaga hubungan sosial, khususnya dengan tetangga,
serta etika dalam berbicara, Rabu (18/3/2026).
Dalam
pemaparannya, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengutip hadits Rasulullah SAW yang
menegaskan bahwa seseorang tidak akan masuk surga jika tetangganya tidak merasa
aman dari keburukannya.
Ia
menekankan bahwa menjaga tetangga bukan hanya sebatas tidak mengganggu secara
fisik, tetapi juga menghindari sikap yang bisa menyakiti perasaan.
“Selamatkan
tetangga kita dari kejelekan diri kita. Ini yang sulit,” ujarnya di hadapan
jamaah.
Ustadz
Ahmad Rifki Azmi juga menyampaikan pesan Rasulullah kepada kaum perempuan agar
tidak meremehkan pemberian kepada tetangga, walaupun hanya sedikit. Menurutnya,
hadis ini memiliki dua sisi makna: Bagi pemberi, jangan meremehkan bantuan
sekecil apa pun dan bagi penerima, jangan merendahkan pemberian orang lain.
Ia
mengingatkan bahwa sikap meremehkan pemberian orang lain dapat berdampak pada
hilangnya keberkahan amal.
Kajian
juga membahas konsep dalam fikih tentang hak kepemilikan (tasarruf al-milk),
yakni kebebasan seseorang menggunakan miliknya selama tidak menimbulkan
gangguan yang tidak wajar menurut adat.
Contohnya,
seseorang tidak boleh melarang tetangganya membangun rumah, kecuali jika
menimbulkan kerugian nyata seperti merusak atau membahayakan.
“Tolok
ukurnya adalah adat. Kalau secara umum dianggap mengganggu, maka boleh ditegur.
Kalau tidak, maka itu haknya,” jelasnya.
Dalam
bagian lain, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menekankan pentingnya menjaga ucapan. Ia
mengutip pesan Nabi bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
hendaknya berkata baik atau diam.
Ia
juga mengkritisi fenomena masyarakat yang sering berbicara di luar kapasitas
keilmuannya, termasuk dalam hal agama, politik, maupun bidang lain.
“Kalau
tidak paham, lebih baik diam daripada menyesatkan orang lain,” tegasnya.
Lebih
lanjut, ia menjelaskan pentingnya memahami kapasitas dan keahlian seseorang.
Tidak semua penceramah (mubalig) adalah ahli fikih, dan tidak semua ahli fikih
mampu berdakwah secara luas.
Karena
itu, masyarakat diimbau untuk bertanya kepada orang yang tepat sesuai bidang
keilmuannya.
Dalam
penutup kajian, disampaikan bahwa sebaik-baik teman adalah yang mampu
mengingatkan dalam kebaikan, menguatkan saat lemah, dan memberikan ilmu saat
tidak tahu.
Konsep
ini juga selaras dengan pandangan ulama, seperti yang dijelaskan dalam karya Imam
Al-Ghazali, bahwa teman terbagi menjadi tiga: seperti makanan pokok (dibutuhkan
terus), seperti obat (dibutuhkan sesekali), dan seperti penyakit (harus
dijauhi).
Kajian
ditutup dengan doa dan harapan agar jamaah dapat mengamalkan nilai-nilai yang
telah disampaikan, khususnya dalam menjaga hubungan sosial dan meningkatkan
kualitas akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kajian ini, Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terus menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya membahas ibadah, tetapi juga membentuk karakter sosial masyarakat yang lebih baik.
