Filosofi Santri Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Akhlak
Bojonegoro — Nilai-nilai santri dalam membentuk karakter umat menjadi sorotan dalam khutbah Jumat di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. KH. Ahmad Maimun Syafi’I yang bertindak selaku khotib dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa setiap muslim sejatinya adalah santri yang terus belajar memperbaiki akhlak sepanjang hayat, Jum’at (24/10/2025).
Bojonegoro —
Nilai-nilai santri dalam membentuk karakter umat menjadi sorotan dalam khutbah
Jumat di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. KH. Ahmad Maimun Syafi’I yang
bertindak selaku khotib dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa setiap
muslim sejatinya adalah santri yang terus belajar memperbaiki akhlak sepanjang
hayat, Jum’at (24/10/2025).
Mengangkat tema “Filosofi Santri
dalam Membentuk Akhlak Mulia”, khatib menautkan momentum peringatan
Hari Santri Nasional dengan upaya memperkuat moral masyarakat. Santri dinilai
memiliki peran penting sebagai penjaga ilmu agama dan penerus perjuangan ulama.
Dalam khutbahnya, khatib
menjelaskan makna kata “santri” sebagai pesan moral. Huruf S
diartikan sebagai Sabiqul Khairat, yang mencerminkan santri
sebagai pelopor kebaikan dan penolak berbagai tindakan merusak. Huruf N
dipahami sebagai Na-ibu
Syaikh, yakni santri yang kelak diharapkan menjadi penerus ulama.
Selanjutnya, T
merujuk pada Tarkul
Ma’asi, ajakan untuk menjauhi maksiat dan segera bertobat ketika
tergelincir dalam dosa. Huruf R berarti Riyadhatun
Nafs atau latihan jiwa yang membentuk kerendahan hati dan
membersihkan diri dari sifat sombong. Terakhir, Y
dimaknai sebagai Yaqin Billah, berupa keyakinan teguh
kepada Allah yang melahirkan ketenangan dan keteguhan hidup.
Menurut khatib, filosofi tersebut
tidak semata ditujukan bagi para santri yang tinggal di pesantren, melainkan
relevan bagi seluruh muslim yang berkewajiban menuntut ilmu dan menjaga akhlak.
Khutbah kemudian ditutup dengan doa agar Allah menjaga bangsa Indonesia serta melahirkan generasi muda berkarakter mulia. Jamaah diimbau menjaga salat, menghormati guru dan orang tua, serta menghidupkan nilai kebaikan dalam keluarga dan masyarakat.
