Detail Berita

Hakikat Keramat dan Pentingnya Istiqamah dalam Wirid

Bojonegoro — Pada pengajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Ustadz Rifki Azmi mengajak jamaah memahami kembali hakikat keramat, tingkatan kewalian, serta pentingnya istiqamah dalam menjalankan wirid. Kajian yang membahas Kitab Al-Hikam itu menekankan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari kemampuan karomah atau “keramat”, melainkan dari keteguhan ibadah dan kebersihan hati, Rabu (5/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Pada pengajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Ustadz Rifki Azmi mengajak jamaah memahami kembali hakikat keramat, tingkatan kewalian, serta pentingnya istiqamah dalam menjalankan wirid. Kajian yang membahas Kitab Al-Hikam itu menekankan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari kemampuan karomah atau “keramat”, melainkan dari keteguhan ibadah dan kebersihan hati, Rabu (5/11/2025).

Ustadz Rifki menjelaskan bahwa tidak semua orang yang diberi keramat oleh Allah SWT memiliki hati yang sepenuhnya bebas dari dominasi nafsu. “Kadang ada orang yang hatinya masih dikalahkan oleh syahwat, tetapi justru diberi keramat. Sebaliknya, ada yang hatinya sudah benar-benar lillah dan billah, namun tidak diberi keramat sama sekali,” ujarnya di hadapan jamaah.

Menurut penceramah, salah satu fungsi keramat adalah meneguhkan keyakinan orang yang sedang menempuh jalan mujahadah. Keramat dianggap sebagai tanda bahwa jalan spiritual yang ditempuh adalah benar, sehingga meningkatkan semangat ibadahnya.

“Namun, para sahabat Nabi tidak dikenal dengan keramat yang aneh-aneh. Hati mereka sudah kuat, iman mereka sudah mapan. Tanpa keramat pun, ibadah mereka tetap kokoh,” tambahnya.

Selanjutnya, ustadz Rifki menjelaskan bahwa dalam tradisi tasawuf, ada dua jalur seseorang diangkat menjadi wali. Pertama, Jalur suluk atau mujahadah, melalui latihan ibadah, pengendalian nafsu, memperbanyak salat, zikir, sabar, tawakal, dan sifat-sifat mulia lain. Kedua, Jalur jazab, seseorang ditarik langsung oleh Allah menuju kedekatan spiritual tanpa riwayat latihan panjang.

Wali jalur jazab, kata Ustadz Rifki, kadang terlihat tidak stabil secara lahiriah karena hatinya seperti “wadah kecil yang diguyur air dari ketinggian”. “Ada yang tampak seperti orang bingung, bahkan majnun. Namun itu kondisi batin, bukan gangguan akal,” katanya.

Ia menambahkan, “Yang perlu diwaspadai adalah orang yang pura-pura jazab. Fenomena seperti ini bukan kedekatan dengan Allah, tetapi justru bisa menjadi penipuan spiritual.”

Kajian kemudian berlanjut pada penjelasan Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam mengenai perbedaan wirid dan warid. Wirid adalah rutinitas ibadah seorang hamba—zikir, membaca Al-Qur’an, puasa sunah, atau tahajud—yang dijalankan secara istiqamah. Sementara warid adalah “pemberian batin” dari Allah, seperti ketenangan, kelembutan hati, atau kesadaran spiritual yang mendalam.

“Tidak ada yang meremehkan wirid kecuali orang yang jahil,” ujar penceramah mengutip Ibn Atha’illah. Wirid bahkan dianjurkan dilakukan hingga akhir hayat, sebagaimana dinisbatkan kepada para ulama besar yang tetap membaca Al-Qur’an meski sedang sakit keras.

Ustadz Rifki mengingatkan bahwa warid tidak boleh dijadikan tujuan utama. “Ketenangan hati, kelezatan zikir, rasa tenteram, itu semua buah. Sedangkan wirid adalah perintah Allah. Maka yang lebih penting adalah menjalankan perintah-Nya, bukan mengejar rasa yang muncul darinya,” katanya.

Menurunya, sebagian orang keliru menilai bahwa hasil dari ibadah, misalnya rasa nikmat atau pengalaman spiritual adalah ukuran keberhasilan. Padahal, dalam tasawuf, yang lebih utama adalah kesungguhan menjalankan kewajiban.

“Buah itu ada karena ada bijinya. Wirid adalah bibit. Warid adalah buah. Bila seseorang lebih mengejar buah daripada menjalankan perintah, ia telah keliru memahami jalan menuju Allah,” tuturnya.

Pengajian ditutup dengan doa agar jamaah diberikan keteguhan hati dalam beribadah, dijauhkan dari kesombongan spiritual, dan mampu menjaga istiqamah dalam zikir dan wirid.