Detail Berita

Hakikat Rezeki dan Kesombongan Manusia

Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali dipenuhi jamaah pada Rabu pagi. Dalam kesempatan tersebut, kajian disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., MA. dengan membahas nasihat Lukman Al-Hakim kepada putranya tentang hakikat rezeki, kesombongan manusia, dan pentingnya mengembalikan seluruh usaha kepada Allah SWT, Rabu (13/5/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam kembali dipenuhi jamaah pada Rabu pagi. Dalam kesempatan tersebut, kajian disampaikan oleh Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., MA. dengan membahas nasihat Lukman Al-Hakim kepada putranya tentang hakikat rezeki, kesombongan manusia, dan pentingnya mengembalikan seluruh usaha kepada Allah SWT, Rabu (13/5/2026).

Dalam tausiyahnya, Dr. Yogi Prana Izza menjelaskan bahwa manusia sering terjebak dalam pola pikir modern yang menganggap kesuksesan sepenuhnya berasal dari kecerdasan, kerja keras, dan kemampuan pribadi. Padahal, menurutnya, cara berpikir semacam itu dapat menimbulkan kesombongan sebagaimana kisah Qarun yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

“Qarun merasa seluruh kekayaan yang dimilikinya berasal dari ilmunya sendiri. Ini yang disebut sebagai kesombongan pemikiran. Manusia akhirnya merasa memiliki segalanya karena usaha dan kepintarannya,” terangnya di hadapan jamaah.

Dr. Yogi kemudian mengajak jamaah merenungkan hakikat kehidupan manusia. Saat lahir, manusia tidak membawa apa-apa, dan ketika meninggal juga meninggalkan seluruh harta bendanya. Karena itu, menurutnya, manusia sejatinya bukan pemilik mutlak atas apa yang dimiliki, melainkan hanya penerima amanah dari Allah SWT.

“Kalau sejak lahir kita tidak membawa apa-apa dan saat meninggal juga tidak membawa apa-apa, lalu bagaimana mungkin kita merasa benar-benar memiliki?” ujarnya.

Selain itu, Dr. Yogi menekankan bahwa manusia juga tidak memiliki kendali penuh bahkan atas dirinya sendiri. Jantung berdetak, napas berjalan, dan kehidupan berlangsung bukan karena kuasa manusia, tetapi karena kehendak Allah SWT.

Dalam kajian tersebut, Dr. Yogi juga menyoroti bahaya “istidraj”, yakni kondisi ketika seseorang terus diberi kenikmatan dunia namun dicabut rasa syukur dan ketenangan dari hidupnya. Akibatnya, seseorang tidak pernah merasa cukup meski memiliki banyak harta dan kemewahan.

“Bisa saja seseorang punya rumah mewah, keluarga, dan harta melimpah, tetapi tidak merasakan nikmatnya hidup. Itulah ketika ruh kenikmatan dicabut oleh Allah,” jelasnya.

Dr. Yogi turut mengutip nasihat dalam Al-Qur’an agar manusia mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian dunia. Islam, menurutnya, mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan kehidupan sosial. Harta, rumah, pekerjaan, dan usaha harus diniatkan sebagai jalan ibadah kepada Allah SWT.

Dr. Yogi juga menjelaskan pentingnya sedekah dan berbagi sebagai cara menjaga keberkahan harta. Dalam salah satu ilustrasinya, beliau mengutip kisah Rasulullah SAW bersama Sayyidah Aisyah RA mengenai kambing yang disedekahkan. Rasulullah menegaskan bahwa bagian yang disedekahkan justru menjadi bagian yang kekal di sisi Allah, sedangkan yang dimakan akan habis.

Tak hanya itu, kajian juga membahas dampak buruk kerakusan dan monopoli ekonomi. Dr. Yogi menilai sifat Qarun dapat merusak sistem sosial dan ekonomi ketika seseorang enggan berbagi, menumpuk kekayaan, serta menutup kesempatan bagi masyarakat kecil.

“Kerusakan bukan hanya soal alam, tetapi juga ketika sistem ekonomi rusak karena keserakahan dan ketidakpedulian terhadap sesama,” ungkapnya.

Di akhir kajian, Dr. Yogi mengingatkan bahwa bekerja seharusnya tidak hanya dipandang sebagai aktivitas mencari uang, melainkan bagian dari ibadah. Ketika usaha dilakukan dengan niat mencari ridha Allah, maka seluruh aktivitas kehidupan akan bernilai pahala.

“Kalau bekerja diniatkan ibadah, maka setiap langkah mencari nafkah menjadi amal di sisi Allah SWT,” pungkasnya.

Kajian Subuh rutin di Masjid Agung Darussalam tersebut ditutup dengan doa bersama dan harapan agar jamaah senantiasa diberi keberkahan dalam kehidupan, keluarga, dan rezeki mereka.