Hikmah Puasa Tiga Hari dalam Sebulan
Bojonegoro — Kajian hadis yang digelar di Masjid Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, menekankan pentingnya menjalankan ibadah secara moderat, berkelanjutan, dan tidak berlebihan. Kajian tersebut mengulas keutamaan puasa sunnah, khususnya puasa tiga hari setiap bulan serta puasa Nabi Daud AS, Sabtu (13/12/2025).
Bojonegoro
— Kajian hadis yang digelar di Masjid Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, menekankan
pentingnya menjalankan ibadah secara moderat, berkelanjutan, dan tidak
berlebihan. Kajian tersebut mengulas keutamaan puasa sunnah, khususnya puasa
tiga hari setiap bulan serta puasa Nabi Daud AS, Sabtu (13/12/2025).
Ustadz
Rifki menjelaskan bahwa puasa tiga hari dalam sebulan yang dikenal sebagai ayyamul
bidh memiliki keutamaan besar. Selain bernilai pahala setara dengan puasa
sepanjang tahun, amalan ini juga diyakini dapat membantu membersihkan penyakit
hati seperti dendam, prasangka buruk (suuzan), dan hasad.
“Dendam
sering melahirkan suuzan dan iri hati. Salah satu ikhtiar spiritual untuk
membersihkannya adalah dengan puasa tiga hari setiap bulan,” ujar Ustadz Rifki
di hadapan jamaah.
Kajian
kemudian berlanjut pada pembahasan puasa Nabi Daud AS, yakni puasa
selang-seling sehari berpuasa dan sehari berbuka. Menurut Ustadz Rifki, puasa
ini disebut sebagai puasa paling utama karena mencerminkan keseimbangan antara
kesabaran dan rasa syukur, serta memungkinkan seseorang tetap memenuhi hak
diri, keluarga, dan masyarakat.
Dalam
kajian tersebut juga disampaikan kisah sahabat Abdullah bin Amr bin Ash RA,
yang pada masa mudanya beribadah secara sangat ketat. Rasulullah SAW kemudian
menasihatinya agar tidak berlebihan dan memilih ibadah yang mampu dijalani
secara istiqamah. Di masa tuanya, Abdullah bin Amr mengakui bahwa mengikuti
keringanan yang dianjurkan Nabi justru lebih bijaksana.
“Rasulullah
SAW lebih mencintai ibadah yang terus-menerus meskipun sedikit, daripada ibadah
berat yang tidak berkelanjutan,” kata Ustadz Rifki mengutip hadis sahih riwayat
Bukhari dan Muslim.
Selain
puasa, kajian juga menyinggung pentingnya memperluas makna ibadah. Menyenangkan
keluarga, memenuhi hak pasangan, bekerja dengan niat yang benar, hingga
aktivitas keseharian, disebut sebagai bagian dari jalan mendekatkan diri kepada
Allah jika dilakukan dengan niat ibadah.
Kajian sore tersebut ditutup dengan ajakan agar umat Islam tidak membatasi jalan ketakwaan hanya pada ritual tertentu, melainkan meneladani Rasulullah SAW yang mencontohkan keseimbangan antara ibadah personal dan tanggung jawab sosial.
