Detail Berita

Hikmah Puasa, untuk Meningkatkan Takwa dan Kendalikan Nafsu

Bojonegoro – Suasana khidmat menyelimuti majelis ilmu yang digelar pada Rabu pagi di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam tausiyahnya, KH. Imam Nuruddin mengajak jamaah untuk memaknai ibadah puasa sebagai sarana meningkatkan ketakwaan dan mengendalikan hawa nafsu, Rabu (25/2/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro – Suasana khidmat menyelimuti majelis ilmu yang digelar pada Rabu pagi di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam tausiyahnya, KH. Imam Nuruddin mengajak jamaah untuk memaknai ibadah puasa sebagai sarana meningkatkan ketakwaan dan mengendalikan hawa nafsu, Rabu (25/2/2026).

Kajian diawali dengan ungkapan syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga jamaah dapat hadir, bermujalasah (duduk bersama dalam majelis ilmu), dan istiqamah dalam kebersamaan. Shalawat serta salam turut dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan harapan seluruh jamaah kelak diakui sebagai umat beliau dan memperoleh syafaat di hari kiamat.

Dalam tausiyahnya, KH. Imam Nuruddin menegaskan bahwa salah satu hikmah utama diwajibkannya puasa adalah untuk meningkatkan derajat takwa kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, bahwa tujuan puasa adalah agar manusia mencapai derajat orang-orang yang bertakwa.

“Takwa itu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang bertakwa dijanjikan surga seluas langit dan bumi,” ujarnya di hadapan jamaah.

Beliau menjelaskan bahwa kondisi iman dan takwa manusia tidak selalu stabil. Ada kalanya meningkat, menurun, atau berada pada tingkat biasa. Karena itu, puasa menjadi sarana pendidikan (madrasah) untuk melatih kesabaran dan konsistensi dalam beribadah.

Menurutnya, terdapat empat ciri utama orang yang bertakwa. Pertama, gemar berbagi baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Kedua, mampu menahan amarah. Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa orang yang mampu menahan amarahnya dijanjikan surga. Puasa, kata beliau, menjadi latihan konkret untuk mengendalikan emosi dan hawa nafsu.

Ciri ketiga adalah pemaaf. Beliau menguraikan bahwa memaafkan memiliki tingkatan, mulai dari sekadar memaafkan, bersalaman, hingga benar-benar melupakan kesalahan orang lain. Rasulullah SAW dicontohkan sebagai pribadi yang sangat pemaaf, bahkan ketika dihina dan disakiti.

Ciri keempat adalah berbuat baik kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang pernah berbuat jahat. Sikap inilah yang menjadi wujud akhlak mulia sekaligus puncak ketakwaan.

Lebih lanjut, KH. Imam Nuruddin menjelaskan bahwa puasa juga berfungsi untuk mengekang hawa nafsu. Beliau mengisahkan secara simbolik bahwa hawa nafsu sulit dikendalikan kecuali dengan menahan makan dan minum. Karena itu, selama Ramadan umat Islam cenderung lebih ringan dalam beribadah, rajin salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan qiyamul lail.

Namun demikian, beliau mengingatkan agar semangat tersebut tidak hanya bertahan selama Ramadan. Setelah Idulfitri, umat Islam dianjurkan melanjutkan dengan puasa sunnah, seperti puasa enam hari di bulan Syawal, sebagai bentuk latihan berkelanjutan dalam mengendalikan nafsu.

“Puasa adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad. Setahun hanya satu bulan, tetapi pahalanya luar biasa,” tuturnya.

Di akhir tausiyah, beliaumendoakan agar seluruh jamaah diberi umur panjang, kesehatan, dan kesempatan untuk menuntaskan ibadah Ramadan hingga kembali dipertemukan dengan Ramadan berikutnya dalam keadaan iman dan takwa.

Pengajian ditutup dengan doa bersama dan harapan agar majelis ilmu tersebut menjadi sebab diampuninya dosa-dosa para jamaah oleh Allah SWT.