Detail Berita

Ibadah Berkesinambungan Lebih Utama

BOJONEGORO — Dalam kajian kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Ustadz Rifki mengingatkan pentingnya menjalankan ibadah secara berkesinambungan dan proporsional, bukan secara berlebihan namun singkat, karena justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan spiritual maupun sosial seseorang, Kamis (1/1/2026).

Kuliah Shubuh

BOJONEGORO Dalam kajian kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Ustadz Rifki mengingatkan pentingnya menjalankan ibadah secara berkesinambungan dan proporsional, bukan secara berlebihan namun singkat, karena justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan spiritual maupun sosial seseorang, Kamis (1/1/2026).

Ustadz Rifki menjelaskan bahwa tidak semua ibadah diperintahkan untuk dilakukan setiap saat. Shalat, misalnya, memiliki waktu-waktu tertentu. Begitu pula ibadah haji yang hanya dapat dilaksanakan pada bulan-bulan khusus, yakni Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Menurutnya, pembatasan waktu tersebut bukan tanpa hikmah, melainkan agar umat benar-benar menyiapkan diri secara lahir dan batin sebelum melaksanakannya.

“Ibadah itu bukan soal cepat atau banyaknya, tetapi soal kesiapan dan kesempurnaan dalam menjalaninya,” ujarnya.

Ia mencontohkan pelaksanaan ibadah haji yang tidak hanya sebatas ritual, tetapi mencakup proses panjang: mulai dari niat, persiapan, menjalankan sunah-sunah, wukuf di Arafah, hingga tahallul. Semua tahap itu, kata dia, bertujuan menyempurnakan ibadah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Ustadz Rifki juga mengkritik kecenderungan sebagian orang yang menjalankan ibadah secara berlebihan dalam waktu singkat, seperti shalat ratusan rakaat dalam semalam atau mengkhatamkan Al-Qur’an secara tergesa-gesa. Ia menyebut sikap tersebut sebagai bentuk “rakus secara spiritual”, yakni menuruti dorongan rasa senang sesaat tanpa mempertimbangkan keberlanjutan.

“Akibatnya, ibadah tidak bertahan lama. Hari ini kuat, besok justru berhenti total,” katanya.

Ia mengutip pandangan ulama besar Imam Al-Ghazali yang mengibaratkan ibadah berkesinambungan seperti tetesan air yang terus-menerus mengenai batu. Meski sedikit, tetesan itu pada akhirnya mampu melubangi batu. Sebaliknya, ibadah yang dilakukan secara mendadak dan berlebihan justru cepat menguap dampaknya.

Kisah sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Amr bin Ash, juga disinggung. Ia dikenal sangat tekun beribadah, namun Rasulullah menegurnya agar tidak melampaui batas, karena ibadah yang terus-menerus dan seimbang lebih dicintai Allah daripada yang ekstrem tetapi tidak bertahan.

Selain berdampak pada diri sendiri, ibadah yang dilakukan secara berlebihan juga dinilai berpotensi mengabaikan hak-hak lain, seperti keluarga. “Shalat memang hak Allah, tetapi keluarga juga memiliki hak yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Islam menempatkan keseimbangan sebagai prinsip utama. Hak-hak Allah harus dipenuhi, namun tanpa mengorbankan hak sesama manusia. Karena itu, ibadah seharusnya memperbaiki kehidupan, bukan justru merusaknya.

Kajian ditutup dengan doa dan ajakan agar umat Islam menata kembali cara beribadah: tidak tergesa-gesa, tidak berlebihan, tetapi istiqamah dan penuh kesadaran.