Ikhlas dan Kejujuran dalam Beramal
Jamaah shalat Subuh mengikuti pengajian rutin yang diisi tausiyah tentang makna keikhlasan dan kejujuran dalam beribadah. Dalam ceramahnya, Kyai Kholidin mengingatkan bahwa amal sebesar apa pun tidak bernilai tanpa niat yang tulus semata-mata karena Allah, Ahad (21/12/2025).
Jamaah
shalat Subuh mengikuti pengajian rutin yang diisi tausiyah tentang makna
keikhlasan dan kejujuran dalam beribadah. Dalam ceramahnya, Kyai Kholidin
mengingatkan bahwa amal sebesar apa pun tidak bernilai tanpa niat yang tulus
semata-mata karena Allah, Ahad (21/12/2025).
Pengajian dibuka dengan pembacaan
hamdalah, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta doa dan kirim Al-Fatihah
untuk para guru dan orang tua yang telah wafat. Suasana khusyuk menyertai
rangkaian doa bersama sebelum materi inti disampaikan.
Mengutip pendapat ulama tasawuf, Kyai
Kholidin menjelaskan bahwa ikhlas berarti membersihkan niat dari keinginan
dilihat atau dipuji orang lain. “Ikhlas itu beramal tanpa berharap sorotan
manusia. Yang dicari hanya ridha Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurut Kyai Kholidin, riya atau
pamer kebaikan justru dapat menghapus pahala. Seseorang yang beramal demi
pujian, katanya, pada hakikatnya kehilangan nilai ibadah di sisi Tuhan. Karena
itu, umat diminta terus mengawasi hati saat berbuat baik.
Ia menyebutkan sejumlah tanda orang
yang ikhlas, antara lain tetap bersemangat beramal meski tidak mendapat
pengakuan, tidak kecewa ketika tak dipuji, serta tidak menggantungkan balasan
dari manusia. “Dipuji atau tidak, dicela atau tidak, ia tetap berbuat baik,”
tuturnya.
Selain ikhlas, kejujuran juga
menjadi pokok pembahasan. Kejujuran, lanjutnya, adalah kesesuaian antara sikap
saat sendirian dan ketika di depan orang banyak. Ia mengkritik fenomena
pencitraan atau “branding” diri yang kerap menampilkan kesalehan di ruang
publik, tetapi tidak selaras dengan perilaku pribadi.
“Jujur itu bukan sekadar ucapan,
tapi kesatuan hati, lisan, dan perbuatan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Kyai juga
mendorong jamaah memperbanyak amal sunah yang jarang dilakukan, seperti shalat
dhuha delapan rakaat atau ibadah tambahan lainnya. Menurut dia, amalan kecil
yang dikerjakan konsisten dan tulus sering kali lebih bernilai daripada amalan
besar yang disertai pamrih.
Ia turut menyinggung pandangan para
ulama hadis mengenai amalan fadhailul a’mal (keutamaan amal) yang dapat
diamalkan meski bersumber dari hadis lemah, selama tidak berkaitan dengan
penetapan hukum halal dan haram. Pendekatan itu, katanya, dimaksudkan untuk
memotivasi umat semakin mencintai ibadah, termasuk memakmurkan masjid.
Menutup tausiyah, ia mengajak
jamaah menjalankan setiap perintah agama dengan sungguh-sungguh dan sepenuh
kemampuan. “Kalau diperintah Allah dan Rasul-Nya, lakukan semaksimal mungkin,
jangan sekadar asal,” ujarnya.
Pengajian Subuh tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas ibadah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amalan, tetapi terutama oleh kebersihan niat dan kejujuran hati.
