Ilmu yang Menerangi Hati: Pesan Keikhlasan dari Sayyidina Ali
Bojonegoro — Dalam suasana sejuk usai Subuh, lantunan doa dan bacaan kitab menggema di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian Shubuh diikuti jamaah dari berbagai kalangan itu kali ini membahas pesan mendalam Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang pentingnya menjaga ilmu dan hati dalam kehidupan beragama, Selasa (21/10/2025).
Bojonegoro
— Dalam suasana sejuk usai Subuh, lantunan doa dan bacaan kitab menggema di
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian Shubuh diikuti jamaah dari berbagai
kalangan itu kali ini membahas pesan mendalam Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang
pentingnya menjaga ilmu dan hati dalam kehidupan beragama, Selasa (21/10/2025).
Ustadz Khafif menjelaskan,
Sayyidina Ali merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang pertama kali
beriman di usia muda dan dikenal karena kecerdasan serta ketawadhuannya.
Melalui kisah hidupnya, jamaah diajak merenungi makna sejati dari keberkahan
ilmu, bukan sekadar pengetahuan yang dipelajari, tetapi ilmu yang menuntun hati
menuju keikhlasan.
“Ilmu itu harus mampu menerangi
hati, bukan hanya menambah pengetahuan,” ujarnya dalam kajian tersebut.
Menurutnya, ilmu tanpa adab dan ketundukan justru dapat melahirkan kesombongan
yang menjauhkan seseorang dari berkah.
Kajian kemudian menyinggung
perbedaan antara ilmu dirayah dan ilmu wirasah.
Ilmu
dirayah dapat dipelajari melalui tulisan dan pengajaran, sementara ilmu
wirasah adalah ilmu yang diwariskan melalui hubungan batin,
ketulusan, dan keberkahan guru. “Para ulama pewaris para nabi. Yang diwarisi
bukan hanya kitab, tapi juga keikhlasan,” katanya.
Melalui kisah seorang santri yang
dahulu dikenal cerdas namun kehilangan keberkahan karena merasa lebih unggul
dari gurunya, Ustadz Khafif menekankan bahwa kesombongan adalah penyebab
meredupnya ilmu. Sebaliknya, keberhasilan seorang murid terletak pada
keterhubungannya kepada guru dan rasa syukur atas jasa para pendahulu.
Dalam bagian lain, kajian
menyinggung pesan Sayyidina Ali yang terkenal: “Cukuplah
bagiku kemuliaan karena Engkau adalah Tuhanku, dan cukuplah bagiku kebanggaan
karena aku adalah hamba-Mu.” Pesan itu dipahami sebagai ajakan
untuk kembali pada hakikat penghambaan, kesadaran bahwa manusia hidup untuk
beribadah dan menjaga janji keimanan yang diikrarkan sejak di alam ruh.
“Manusia sering lupa bahwa dirinya
hanyalah hamba,” ujarnya. “Kita disebut an-nas karena mudah
lupa, terutama lupa bersyukur dan tunduk kepada Allah.”
Kajian juga menyoroti pentingnya
menjaga hubungan dengan sumber-sumber rahmat Allah, seperti masjid dan
Al-Qur’an. Menurutnya, hati yang jauh dari Al-Qur’an akan mudah gelap dan
kehilangan arah. Ia mengingatkan bahwa kesulitan membaca atau menghafal
Al-Qur’an sering kali bukan karena malas, melainkan karena hati belum bersih.
“Al-Qur’an tidak mau dibaca oleh lisan yang kotor,” katanya.
Menutup kajian, ia menegaskan bahwa
inti ajaran Islam terletak pada akhlak. Akidah dan syariah memang penting,
namun tanpa akhlak, keduanya akan kehilangan keindahan. “Perbedaan dalam fiqih
jangan melahirkan permusuhan. Akhlak harus menjadi bingkai setiap perbedaan,”
pesannya.
Ia mencontohkan, sikap keras dan
mudah menyalahkan orang lain sering kali lahir dari ketidakhadiran akhlak.
“Islam itu indah kalau ditutup dengan akhlak,” ujarnya.
Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” ia menegaskan
bahwa kemuliaan seorang hamba bukan hanya karena banyaknya ibadah, tetapi
karena kejernihan hati dan kebaikan perilakunya.
Kajian ditutup dengan doa bersama,
memohon agar ilmu yang dipelajari membawa manfaat, membersihkan hati, dan
menjadikan setiap jamaah hamba yang benar-benar mengenal Tuhannya.
“Cukuplah kita bangga menjadi hamba Allah,” tutupnya lirih, disambut lantunan hamdalah oleh jamaah yang memenuhi ruang utama masjid.
