Detail Berita

Iman Menjadi Penentu Nilai Amal

BOJONEGORO — Jamaah Masjid Agung Darussalam mengikuti kajian tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 103–106 dalam kajian yang digelar seusai salat berjamaah. Kajian ini menekankan pentingnya iman dan tauhid sebagai penentu diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia di hadapan Allah SWT, Sabtu (13/12/2025).

Kuliah Shubuh

BOJONEGORO — Jamaah Masjid Agung Darussalam mengikuti kajian tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 103–106 dalam kajian yang digelar seusai salat berjamaah. Kajian ini menekankan pentingnya iman dan tauhid sebagai penentu diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia di hadapan Allah SWT, Sabtu (13/12/2025).

Dalam kajiannya, KH. A. Maimun Syafi’I menjelaskan makna ayat yang menyebutkan golongan manusia yang paling merugi amalnya di akhirat, yakni mereka yang merasa telah berbuat baik, namun seluruh amalnya gugur karena tidak dilandasi iman yang benar. Amal-amal tersebut, meskipun tampak mulia secara lahiriah di dunia, tidak bernilai di sisi Allah SWT.

Mbah Mun menegaskan bahwa amal kebaikan seperti sedekah, wakaf, maupun menolong sesama tidak akan membawa manfaat akhirat apabila dilakukan dalam keadaan kufur atau menyekutukan Allah. “Amal bisa menjadi batal ketika seseorang meninggal dalam keadaan tidak beriman atau melakukan syirik,” ujarnya.

Dalam konteks tafsir ayat tersebut, Mbah Mun menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan golongan yang amalnya sia-sia adalah Ahlul Kitab, yakni Yahudi dan Nasrani, yang tidak menerima risalah Nabi Muhammad SAW. Mereka memiliki keyakinan dan ritual ibadah, bahkan menunjukkan kesungguhan spiritual, tetapi dari sisi tauhid tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Namun demikian, Mbah Mun juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah mengafirkan sesama Muslim hanya karena perbedaan tradisi keagamaan. Ia menegaskan bahwa kegiatan keagamaan seperti manaqib, pembacaan kitab-kitab klasik, atau pengajian tradisional tidak bisa serta-merta dianggap sebagai kekufuran selama tetap berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kajian tersebut juga mengulas sejarah awal penyimpangan tauhid sejak masa anak keturunan Nabi Adam AS, yang dipicu oleh godaan setan dan hawa nafsu. Dari sinilah praktik syirik mulai muncul dan terus berkembang dalam sejarah umat manusia.

Selain itu, jamaah diingatkan akan pentingnya menjaga keimanan hingga akhir hayat. Mbah Mun mengutip doa Nabi Muhammad SAW yang memohon keteguhan iman, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.”

Dalam kesempatan itu, Mbah Mun juga menyampaikan sejumlah penjelasan fikih praktis terkait salat berjamaah, termasuk hukum makmum masbuk dan keabsahan mengikuti gerakan imam, sebagai bekal jamaah dalam menjalankan ibadah sehari-hari dengan benar.

Kajian ditutup dengan ajakan agar jamaah senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari siksa neraka, siksa kubur, serta berbagai fitnah kehidupan. Jamaah juga diajak untuk terus menjaga iman, memperkuat tauhid, dan istiqamah dalam beribadah agar seluruh amal yang dilakukan bernilai dan diterima di sisi Allah SWT.