Jagalah Allah, Niscaya Allah Akan Menjagamu
Bojonegoro — Suasana Subuh di Masjid Agung DarussalamBojonegoro, terasa khusyuk ketika lantunan zikir bergema sebelum dimulainya kajian rutin. Jamaah memenuhi saf-saf masjid, menyimak penjelasan tentang salah satu pesan penting Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas, yang diriwayatkan dalam hadis terkenal: “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”, Rabu, (22/10/2025)
Bojonegoro
— Suasana Subuh di Masjid Agung DarussalamBojonegoro, terasa khusyuk ketika
lantunan zikir bergema sebelum dimulainya kajian rutin. Jamaah memenuhi saf-saf
masjid, menyimak penjelasan tentang salah satu pesan penting Rasulullah SAW
kepada Ibnu Abbas, yang diriwayatkan dalam hadis terkenal: “Jagalah Allah,
niscaya Allah akan menjagamu”, Rabu, (22/10/2025)
Dalam kajian kitab Qutul
Qulub fi Muamalah al-Mahbub karya Syekh Abu Thalib al-Makki, Ustadz
Yogi menekankan bahwa inti dari menjaga Allah bukan berarti Allah membutuhkan
penjagaan manusia, melainkan manusia yang dituntut menjaga diri agar selalu
menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
“Menjaga Allah berarti menjaga
iman, menjaga waktu, menjaga anggota tubuh dari maksiat, serta menjaga adab
kepada Sang Pencipta,” jelasnya di hadapan jamaah. Menurutnya, ketika seseorang
istiqamah menjaga perintah Allah, maka Allah akan menjaga dirinya, baik dalam
urusan dunia maupun akhirat.
Kajian kemudian mengulas hadis
panjang yang disampaikan Rasulullah kepada Ibnu Abbas: ‘Jika engkau
meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah
kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh makhluk berkumpul untuk memberi manfaat
kepadamu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali yang telah ditetapkan
Allah bagimu.’
Menurut Ustadz Yogi, pesan ini
mengajarkan tauhid yang murni: keyakinan bahwa seluruh kekuatan, manfaat,
maupun mudarat sepenuhnya berada di tangan Allah. “Manusia hanyalah perantara.
Dokter bisa memberi obat, tapi kesembuhan tetap milik Allah,” ujarnya.
Ia kemudian menuturkan kisah Umar
bin Khattab RA dengan seorang lelaki yang setiap hari meminta bantuan
kepadanya. Umar menasihati lelaki itu agar belajar Al-Qur’an. Setelah beberapa
waktu, lelaki itu benar-benar berubah: menjauh dari manusia dan mendekat kepada
Allah. Saat Umar menemukannya kembali, ia berkata, “Dengan Al-Qur’an, aku tak
lagi bergantung pada pintumu.” Umar menangis, tersadar bahwa rezeki sejatinya
datang dari langit, bukan dari tangan manusia.
Kisah lain yang disampaikan dalam
kajian adalah riwayat sahih Imam Bukhari tentang seorang lelaki dari Bani
Israil yang meminjam seribu dinar tanpa saksi atau jaminan, hanya dengan
keyakinan bahwa “Cukuplah Allah menjadi saksi dan penjaminku.” Ketika ia tak
menemukan kapal untuk mengembalikan utangnya, uang itu ia titipkan dalam
sepotong kayu dan melemparkannya ke laut, seraya berdoa agar Allah menyampaikan
amanah itu. Kayu itu akhirnya ditemukan oleh pemberi pinjaman, lengkap dengan
uang dan surat di dalamnya.
“Ini pelajaran tentang keyakinan,”
kata Ustadz Yogi. “Jika Allah sudah berkehendak, laut pun bisa menjadi jalan
untuk menunaikan amanah.”
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa
keimanan sejati tidak hanya tampak saat kesulitan, melainkan juga ketika
seseorang berada dalam kelapangan. “Kenalilah Allah saat engkau lapang, maka
Allah akan mengenalimu saat engkau sempit,” katanya, mengutip sabda Nabi.
Kajian ditutup dengan ajakan untuk
memperbanyak istighfar dan bershalawat, seraya memohon agar Allah senantiasa
menjaga umat dari kelalaian dalam beribadah. “Jangan sampai kita menjadi orang
yang melupakan Allah di saat senang, lalu hanya mengingat-Nya ketika susah,”
pesannya.
Doa bersama menutup suasana kajian yang hangat dan penuh makna. Jamaah tampak larut dalam bacaan Al-Fatihah, meneguhkan janji keimanan untuk terus menjaga Allah dalam setiap langkah kehidupan.
