Detail Berita

Jangan Buat Ibadah Sebagai Pencitraan

Bojonegoro — Jamaah Masjid Darussalam Bojonegoro, diajak untuk kembali meluruskan orientasi ibadah agar tidak terjebak pada pencitraan dan penilaian manusia. Pesan itu disampaikan dalam kuliah shubuh yang berlangsung khidmat dan diikuti oleh masyarakat setempat, Ahad, (28/12/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Jamaah Masjid Darussalam Bojonegoro, diajak untuk kembali meluruskan orientasi ibadah agar tidak terjebak pada pencitraan dan penilaian manusia. Pesan itu disampaikan dalam kuliah shubuh yang berlangsung khidmat dan diikuti oleh masyarakat setempat, Ahad, (28/12/2025).

Dalam tausiyahnya, KH. Aziz Falaqi menekankan bahwa Islam dan iman merupakan jembatan keselamatan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, beliau mengingatkan bahwa banyak amal yang secara lahir tampak baik, seperti membersihkan diri, menjaga penampilan, atau mengejar kehormatan sosial justru bisa mencoreng nilai agama apabila diniatkan semata-mata untuk meraih pujian manusia.

“Memutihkan pakaian lahiriah tidak selalu sejalan dengan kebersihan batin. Ketika ibadah hanya dijadikan sarana mencari nama dan kedudukan di hadapan sesama, di situlah agama justru ternodai,” ujarnya.

Beliau mengutip keteladanan Amir bin Abdullah bin Jarrah, yang disebut memiliki garis nasab tersambung dengan Nabi Muhammad SAW, sebagai contoh pentingnya menjaga kemurnian niat dalam beragama. Menurutnya, kehidupan termasuk pernikahan dan amal sosial pada hakikatnya adalah ibadah kepada Allah, bukan ajang memperoleh pengakuan manusia.

Kyai Azizi Falaqi juga mengingatkan bahaya menghalalkan berbagai cara demi mengejar kehormatan dunia, termasuk penggunaan harta dan sarana yang tidak sesuai dengan syariat. Sikap tersebut, kata dia, justru menghinakan diri di hadapan Allah meski tampak memuliakan diri di mata manusia.

Di sisi lain, beliau menyampaikan kabar pengharapan. Setiap manusia tidak luput dari kesalahan, namun Allah membuka pintu rahmat melalui amal saleh. Perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas, menurutnya, mampu menutup dan menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

“Sesungguhnya kebaikan dapat menghapus kejahatan. Betapapun besar dosa manusia, amal saleh yang dilakukan dengan sungguh-sungguh adalah wujud kemurahan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak mensyukuri kemuliaan sebagai umat Nabi Muhammad SAW, yang mendapatkan berbagai bentuk keringanan dan kasih sayang Allah, seperti tidak dicatatnya dosa anak kecil, orang yang tertidur, dan mereka yang belum sadar sepenuhnya.

Menjelang akhir pengajian, Kyai Azizi Falaqi mengajak jamaah memanfaatkan kemuliaan bulan Rajab dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan meningkatkan kualitas amal saleh. Bulan Rajab, katanya, merupakan momentum spiritual untuk melangkah menuju perbaikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kajian ditutup dengan doa bersama agar umat Islam senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga keikhlasan, menambah amal kebajikan, dan memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW di akhirat kelak.