Jangan Menuntut Allah, Tapi Perbaiki Diri Saat Berdoa
Bojonegoro, Ustadz Rifki Azmi dalam kajian Subuh rutin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, mengingatkan jamaah agar tidak tergesa-gesa menuntut Allah ketika doa-doanya belum terkabul. Menurutnya, hakikat doa bukan sekadar meminta sesuatu, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Bojonegoro,
Ustadz Rifki Azmi dalam kajian Subuh rutin di Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro, mengingatkan jamaah agar tidak tergesa-gesa menuntut Allah ketika
doa-doanya belum terkabul. Menurutnya, hakikat doa bukan sekadar meminta
sesuatu, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
“Jangan
sampai kita menuntut Allah karena permintaan kita belum dikabulkan. Yang
seharusnya dituntut adalah diri kita sendiri, apakah adab dan niat kita sudah
benar di hadapan-Nya,” ujar Ustadz Rifki saat mengulas Kitab Al-Hikam karya
Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Jumat (17/10/2025).
Ia
menjelaskan, dalam kitab itu disebutkan, “L? tuth?lib rabbaka, wal?kin
th?lib nafsaka bi ta’kh?ri adabika”, jangan menuntut Tuhanmu, tetapi
tuntutlah dirimu sendiri karena kurangnya adabmu. Kalimat tersebut, katanya,
menjadi pedoman penting bagi setiap Muslim agar selalu introspeksi dalam
berdoa.
Menurut
Ustadz Rifki, perbedaan utama antara orang awam dan para arifin (ahli makrifat)
terletak pada tujuan berdoa. “Orang awam berdoa karena ingin mendapatkan
sesuatu, seperti rezeki, kesehatan, kesuksesan. Tapi orang arif berdoa bukan
karena keinginannya, melainkan karena doa itu sendiri adalah tujuan. Ia berdoa
untuk dekat dengan Allah,” jelasnya.
Lebih
lanjut, ia menuturkan bahwa dalam setiap doa terdapat tiga unsur utama: istighfar,
menghadirkan sifat-sifat Allah, dan menyadari posisi diri sebagai hamba. Saat
seseorang berdoa memohon rezeki, secara tidak langsung ia sedang menghadirkan
sifat Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Ketika memohon kasih sayang, ia
tengah mengingat sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
“Jadi,
doa bukan hanya ucapan, tapi juga latihan spiritual untuk menghadirkan
keagungan Allah dalam hati,” katanya.
Ia
juga mengingatkan jamaah agar selalu berprasangka baik (husnuzan) kepada
Allah. “Jika doa belum terkabul, bukan berarti Allah menolak. Mungkin yang kita
minta belum baik bagi kita, dan Allah memberi yang lebih baik: ketenangan hati,
kedekatan dengan-Nya,” ujarnya.
Dalam
ceramahnya, Ustadz Rifki mencontohkan kisah Nabi Zakaria yang memohon keturunan
selama puluhan tahun. “Nabi Zakaria terus berdoa, bukan karena terobsesi ingin
punya anak, tapi karena doa itu membuatnya selalu dekat dengan Allah. Kedekatan
itulah yang menjadi anugerah sejati,” tuturnya.
Ia
menegaskan bahwa orang beriman tidak boleh menilai doa dari hasil lahiriah
semata. “Kalau kita meminta kesembuhan, misalnya, jangan mengandalkan obat atau
usaha semata. Tetaplah berdoa, karena doa itulah bentuk pengakuan kita sebagai
hamba dan bukti keyakinan pada kekuasaan Allah,” katanya.
Di akhir pengajian, ustaz Rifki mengajak jamaah untuk memperbaiki adab dalam berdoa: berserah diri, ikhlas, dan tidak menuntut hasil. “Ketika kita berdoa dengan penuh adab dan keikhlasan, maka sekalipun permintaan belum dikabulkan secara nyata, hati kita akan diberi kedamaian oleh Allah. Dan itulah, sesungguhnya, bentuk terkabulnya doa,” tutupnya.
