Jangan Merasa Berhak Menuntut Balasan atas Amal
Bojonegoro, Jamaah shalat Subuh di Masjid Darussalam diajak melakukan introspeksi mendalam dalam memaknai ibadah. Dalam pengajian rutin Kitab Al-Hikam, Ustadz Rifki mengingatkan bahaya sikap merasa berhak menuntut balasan dari Allah atas amal yang telah dilakukan, Jum’at (13/2/2026).
Bojonegoro,
Jamaah shalat Subuh di Masjid Darussalam diajak melakukan introspeksi mendalam
dalam memaknai ibadah. Dalam pengajian rutin Kitab Al-Hikam, Ustadz
Rifki mengingatkan bahaya sikap merasa berhak menuntut balasan dari Allah atas
amal yang telah dilakukan, Jum’at (13/2/2026).
Kajian
Shubuh yang merujuk pada karya Al-Hikam karangan Ibnu Athaillah as-Sakandari
itu menekankan pentingnya menjaga posisi sebagai hamba (maqam ubudiyah), bukan
bergeser pada posisi “transaksional” (maqam muamalah) dalam beribadah.
“Ketika
seseorang merasa telah beramal, lalu menuntut Allah agar membalas sesuai
amalnya, di situlah ia berpindah dari maqam kehambaan menuju maqam transaksi,”
ujar Ustadz Rifki di hadapan jamaah.
Menurut
Ustadz Rifki, ibadah pada hakikatnya merupakan bentuk penghambaan total kepada
Allah, bukan sarana tawar-menawar demi memperoleh ganjaran. Jika seseorang
menuntut balasan atas shalat, puasa, atau tahajud yang dikerjakannya, maka
secara tidak langsung ia menempatkan dirinya seolah-olah memiliki hak atas
Tuhan.
Padahal,
lanjutnya, apabila Allah benar-benar “menghisab” amal manusia secara ketat, menuntut
kesempurnaan lahir dan batin—hampir tak ada ibadah yang benar-benar layak
dipersembahkan.
“Kalau
Allah menuntut kesempurnaan ikhlas kita, kesempurnaan niat kita, apakah kita
sanggup?” katanya.
Ia
mengingatkan sebuah kaidah yang sering dikutip para ulama: siapa yang dihisab
secara rinci, niscaya akan celaka. Karena itu, merasa berhak atas surga atau
pahala tertentu justru
Dalam
penjelasannya, Ustadz Rifki menyinggung konsep “sirrul ikhlas” atau keikhlasan
yang tersembunyi di dalam hati. Ia mengatakan, ikhlas bukan sekadar ucapan
lisan atau lintasan pikiran, melainkan dorongan hati terdalam yang murni karena
Allah.
Ia
membedakan antara ucapan niat di lisan, lintasan dalam pikiran, dan hakikat
niat yang menjadi pendorong utama suatu perbuatan. “Niat itu dorongan hati yang
membuat seseorang bergerak melakukan amal. Jika dorongannya masih bercampur
kepentingan lain, maka keikhlasannya belum sempurna,” tuturnya.
Mengutip
pandangan Al-Ghazali, ia menekankan bahwa kemurnian niat menjadi inti dari
kualitas amal. Bahkan, jika Allah menuntut kadar ikhlas secara total, bebas
dari dorongan ego, pujian, atau rasa bangga, manusia hampir pasti tidak mampu
memenuhinya.
Karena
itu, menurutnya, seorang hamba seharusnya lebih banyak merasa malu daripada
merasa layak. “Bagaimana mungkin kita menuntut balasan, sementara ibadah kita
sendiri masih penuh kekurangan?” ujarnya.
Ustadz
Rifki juga mencontohkan sikap rendah hati para sahabat Nabi. Ia menyebut Umar
bin Khattab yang dikenal tegas dan saleh, tetapi tetap tidak pernah merasa aman
dari hisab Allah. Bahkan, lanjutnya, para sahabat tidak pernah mengklaim diri
mereka pasti masuk surga karena amalnya.
Sikap
tersebut, katanya, menunjukkan bahwa surga bukanlah hasil transaksi, melainkan
anugerah (fadhl) dan rahmat Allah semata. Amal menjadi sebab, tetapi bukan
dasar klaim hak.
“Kalau
kita memohon surga, mintalah sebagai karunia Allah, bukan karena merasa sudah
pantas,” katanya.
Ia
menegaskan, berdoa dan berharap pahala bukanlah hal yang dilarang. Yang keliru
adalah ketika seseorang merasa memiliki hak mutlak atas balasan tersebut,
seolah-olah Allah berkewajiban membayarnya.
Kajian
Shubuh ditutup dengan ajakan untuk kembali menata niat dan memperkuat kesadaran
bahwa segala kemampuan beribadah pun merupakan pertolongan Allah. Seseorang
dapat shalat karena diberi kesehatan, udara, waktu, dan kemauan oleh-Nya.
“Kalau
semua itu adalah pemberian Allah, lalu apa yang bisa kita banggakan?” ujarnya.
Ia
mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada rasa bangga atas amal, melainkan
memperbanyak istighfar dan rasa syukur. Sebab, menurutnya, keselamatan bukan
terletak pada banyaknya amal, melainkan pada rahmat Allah yang meliputinya.
Pengajian kemudian ditutup dengan doa bersama dan pembacaan surah Al-Fatihah. Jamaah meninggalkan masjid dalam suasana hening, membawa pesan bahwa ibadah sejatinya adalah jalan kembali kepada kerendahan hati.
