Detail Berita

Jelang Ramadan, Jamaah Diajak Muliakan Sya’ban dan Perbanyak Shalawat

Bojonegoro, Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, jamaah diingatkan untuk memperbanyak syukur, meningkatkan ibadah, serta memuliakan bulan Sya’ban sebagai gerbang menuju Ramadan. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah shubuh yang menekankan pentingnya kesiapan spiritual sebelum memasuki bulan penuh berkah, Ahad (1/2/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, jamaah diingatkan untuk memperbanyak syukur, meningkatkan ibadah, serta memuliakan bulan Sya’ban sebagai gerbang menuju Ramadan. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah shubuh yang menekankan pentingnya kesiapan spiritual sebelum memasuki bulan penuh berkah, Ahad (1/2/2026).

KH. Hilmi al Jumadi membuka tausiyah dengan mengajak jamaah bersyukur atas nikmat umur panjang, kesehatan, serta iman dan Islam yang masih terjaga. “Nikmat paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah mengucapkan Alhamdulillahirabbil ‘alamin,” ujarnya. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW juga ditekankan sebagai wujud cinta dan harapan memperoleh syafaat.

Menurutnya, Ramadan adalah nikmat besar yang selalu dirindukan umat Islam. Para ulama terdahulu bahkan membagi waktu setahun menjadi dua bagian: enam bulan memohon agar dipertemukan dengan Ramadan, dan enam bulan berikutnya memohon agar amal di bulan Ramadan diterima Allah SWT. Karena itu, berbagai ajakan untuk menghormati Ramadan, termasuk melalui spanduk dan pengingat di ruang publik, dinilai sebagai bentuk syiar yang patut diapresiasi.

Selain Ramadan, bulan Sya’ban disebut memiliki keutamaan tersendiri. Mengutip hadist Nabi Muhammad SAW, Kyai Hilmi menjelaskan bahwa pada bulan tersebut amal manusia diangkat kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW disebut kerap berpuasa pada hari Kamis karena pada hari itu amal mingguan diangkat.

“Beliau ingin ketika amalnya diangkat, berada dalam keadaan berpuasa,” jelasnya.

Puasa, lanjutnya, merupakan ibadah yang waktunya panjang dan penuh pengendalian diri, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Karena itu, ia mengajak jamaah membiasakan puasa sunnah sebagai bentuk latihan spiritual sebelum Ramadan.

Kyai Hilmi juga menyinggung keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Mengacu pada sejumlah riwayat, malam pertengahan Sya’ban diyakini sebagai salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Pada malam itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, taubat, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah.

Tradisi membaca Surah Yasin tiga kali dengan niat memohon panjang umur dalam ketaatan, keselamatan dari bala, dan kelapangan rezeki turut disinggung sebagai bagian dari ikhtiar spiritual yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam tausiyah tersebut, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW mendapat penekanan khusus. Mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 56, Kyai Hilmi menyampaikan bahwa Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, dan orang-orang beriman diperintahkan untuk bershalawat serta mengucapkan salam kepadanya.

“Ini satu-satunya ibadah yang dicontohkan langsung oleh Allah SWT. Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi,” tuturnya.

Kyai Hilmi mengingatkan agar umat Islam tidak mudah memperdebatkan praktik shalawat yang berkembang di masyarakat. Selama berlandaskan cinta dan penghormatan kepada Nabi, shalawat dinilai sebagai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat karakter pribadi dan sosial.

Menjelang Ramadan, jamaah juga diajak menghidupkan tradisi tadarus Al-Qur’an. Dicontohkan, setiap Ramadan Nabi Muhammad SAW bertadarus bersama Malaikat Jibril. Bahkan pada tahun terakhir sebelum wafat, tadarus dilakukan hingga dua kali khatam sebagai bentuk penyempurnaan.

Peristiwa pemindahan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram juga disinggung sebagai bagian dari sejarah penting di bulan Sya’ban. Perubahan arah kiblat itu dinilai mencerminkan kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap tanah kelahirannya, Makkah.

Nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan ungkapan populer yang dinisbatkan kepada Hasyim Asy'ari, yakni hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Pesan itu menggarisbawahi pentingnya memadukan kesalehan spiritual dengan tanggung jawab kebangsaan.

Menutup tausiyah, Kyai Hilmi mengajak jamaah memanfaatkan sisa waktu di bulan Sya’ban untuk memperbanyak ibadah, memperkuat iman, serta menyiapkan diri menyambut Ramadan dengan hati yang bersih.

“Semoga Allah memberi kita umur panjang, kesehatan, dan kesempatan bertemu Ramadan dalam keadaan iman yang kokoh,” ujarnya.