Kasih Sayang Allah Tak Pernah Terputus, Meski Manusia Berbuat Dosa
Bojonegoro — Dalam kajian Subuh di Masjid Darussalam, Ustadz Hasan Nur mengingatkan jamaah agar senantiasa bersyukur atas nikmat Allah, terutama nikmat rezeki dan kesehatan. Ia menegaskan bahwa kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ? begitu luas, hingga dosa dan maksiat pun tidak langsung menjadi penghalang turunnya rezeki. “Umat Nabi Muhammad ini adalah umat yang paling mulia. Meski berbuat dosa, Allah masih memberi rezeki dan kesehatan. Itu bentuk kasih sayang Allah kepada kita,” ujarn
Bojonegoro
— Dalam kajian Subuh di Masjid Darussalam, Ustadz Hasan Nur mengingatkan jamaah
agar senantiasa bersyukur atas nikmat Allah, terutama nikmat rezeki dan
kesehatan. Ia menegaskan bahwa kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ? begitu luas, hingga dosa dan maksiat pun
tidak langsung menjadi penghalang turunnya rezeki.
“Umat
Nabi Muhammad ini adalah umat yang paling mulia. Meski berbuat dosa, Allah
masih memberi rezeki dan kesehatan. Itu bentuk kasih sayang Allah kepada kita,”
ujarnya di hadapan jamaah, Kamis (30/10/2025).
Menurutnya,
Allah tidak serta-merta menampakkan dosa manusia ataupun langsung menimpakan
siksa atas kesalahan yang dilakukan. Hal itu, kata beliau, justru menjadi
kesempatan bagi manusia untuk segera bertaubat.
“Kalau
setiap kesalahan langsung dibalas siksa, maka manusia tak akan punya waktu
untuk memperbaiki diri. Karena itu, kemurahan Allah adalah memberi waktu bagi
kita untuk sadar dan kembali ke jalan yang benar,” lanjutnya.
Ustadz
Hasan Nur juga mengingatkan, banyak orang yang hidup bergelimang harta meski
jauh dari ibadah, dan ada pula yang diberi kesehatan meski jarang ke masjid.
Semua itu, bukan berarti Allah ridha
dengan kemaksiatan mereka, melainkan ujian agar manusia semakin sadar dan
bersyukur.
Beliau
menegaskan bahwa bentuk syukur bukan hanya diucapkan lewat lisan, tetapi
diwujudkan melalui amal dan ibadah.
“Mengucap
alhamdulillah saja tidak cukup. Syukur itu harus dibuktikan dengan
ketaatan,” ujarnya.
Empat Amal Sulit Bernilai Besar
Dalam
bagian akhir ceramahnya, Ustadz Hasan Nur mengutip nasihat Sayyidina Ali bin
Abi Thalib r.a. tentang empat amal yang paling sulit dilakukan namun bernilai
pahala besar. Pertama, memaafkan ketika sedang marah (al-‘afu
‘indal ghadhab). Kedua, bermurah hati saat berada dalam
kesempitan ekonomi (al-jûd fil ‘usrah). Ketiga, menjaga
diri dari perbuatan haram ketika sendirian (al-‘iffah fil khalwah). Keempat,
berkata benar di hadapan penguasa yang zalim (qawlul haqq ‘inda sultanin
jâ’ir).
“Amalan
itu sangat berat. Tapi barang siapa mampu melakukannya, Allah akan meninggikan
derajatnya,” katanya.
Sebagai
teladan, Beliau menuturkan kisah ulama besar Sayyid Muhammad al-Maliki yang
pernah dihina di media karena perbedaan pandangan keagamaan. Alih-alih
membalas, sang ulama justru mengirim hadiah kepada orang yang mencacinya.
“Beliau
tidak hanya memaafkan, tapi malah membalas kebencian dengan kasih sayang.
Itulah bukti kemuliaan akhlak,” tuturnya.
Ajakan untuk Bersyukur dan Bertaubat
Kajian
yang diakhiri dengan doa bersama itu menegaskan pesan moral: bahwa kelapangan
rezeki dan kesehatan adalah karunia yang harus disyukuri, bukan diabaikan.
Setiap nikmat, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban.
“Kita diberi rezeki, kesehatan, dan umur panjang bukan tanpa tujuan. Semua akan ditanya: untuk apa digunakan,” ujarnya menutup kajian dengan doa.
