Kebahagiaan Sejati Datang dari Memberi
Bojonegoro – Kajian Shubuh Ramadan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali diisi dengan pesan tentang pentingnya berbagi dan kepedulian sosial. Dalam kajian yang disampaikan oleh Ustadz Agus Sholahuddin, jamaah diajak memahami makna zakat dan sedekah tidak hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai sarana membersihkan jiwa dan menghadirkan kebahagiaan yang lebih bermakna, Rabu (11/3/2026).
Bojonegoro
– Kajian Shubuh Ramadan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali diisi
dengan pesan tentang pentingnya berbagi dan kepedulian sosial. Dalam kajian
yang disampaikan oleh Ustadz Agus Sholahuddin, jamaah diajak memahami makna
zakat dan sedekah tidak hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai
sarana membersihkan jiwa dan menghadirkan kebahagiaan yang lebih bermakna, Rabu
(11/3/2026).
Dalam
tausiyahnya, Ustadz Agus menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang
menggunakan kata sedekah, tetapi oleh para ulama dimaknai sebagai
sedekah yang bersifat wajib, yaitu zakat. Meski demikian, secara umum ayat
tersebut juga mencakup sedekah sunah yang memiliki manfaat besar bagi kehidupan
manusia.
Ia
menyoroti satu kata penting dalam ayat tersebut, yaitu “tuzakkihim”,
yang berarti mensucikan atau membersihkan.
“Zakat
atau sedekah yang kita keluarkan ternyata tidak hanya membersihkan harta kita,
tetapi juga membersihkan jiwa,” jelasnya.
Menurutnya,
sebagaimana dijelaskan dalam tafsir karya Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi, proses
penyucian itu tidak hanya terjadi pada orang yang memberi, tetapi juga pada
orang yang menerima zakat atau sedekah.
“Artinya,
sedekah itu membersihkan dua pihak sekaligus: yang memberi dan yang menerima,”
ujarnya.
Ustadz
Agus kemudian mengaitkan pesan Al-Qur’an tersebut dengan teori psikologi modern
tentang sumber kebahagiaan manusia. Ia menjelaskan bahwa dalam psikologi
dikenal dua jenis kebahagiaan.
Jenis
pertama adalah hedonic happiness, yaitu kebahagiaan yang muncul karena
faktor materi atau sesuatu yang bersifat eksternal. Contohnya adalah kebahagiaan
saat seseorang membeli barang baru, mendapatkan kenaikan gaji, atau memperoleh
sesuatu yang diinginkan.
Namun,
menurutnya, kebahagiaan seperti ini biasanya tidak bertahan lama.
“Ketika
kita membeli sepeda motor baru, handphone baru, atau mobil baru, kita memang
merasa sangat bahagia. Tapi kebahagiaan itu biasanya hanya sebentar,” jelasnya.
Ia
mencontohkan seseorang yang bahagia karena kenaikan gaji, tetapi beberapa waktu
kemudian kembali merasa stres karena kebutuhan dan cicilan juga meningkat.
Sebaliknya,
jenis kebahagiaan kedua adalah eudaimonic happiness, yaitu kebahagiaan
yang muncul karena seseorang merasa hidupnya bermakna dan bermanfaat bagi orang
lain.
“Ketika
kita membantu orang lain, misalnya memberi santunan kepada anak yatim, lalu melihat
wajah mereka yang bahagia, kebahagiaan itu justru masuk ke dalam hati kita dan
bisa bertahan lama,” katanya.
Menurutnya,
kebahagiaan jenis kedua inilah yang lebih mendalam dan sering kali muncul
kembali bahkan setelah bertahun-tahun, ketika seseorang mengingat kembali
kebaikan yang pernah ia lakukan.
Dalam
kajian tersebut, Ustadz Agus juga menceritakan kisah seorang sahabat Nabi dari
kaum Ansar yang rela menjamu tamu Rasulullah SAW meskipun keluarganya hanya
memiliki sedikit makanan.
Dalam
kisah itu, sahabat tersebut membawa tamu Rasulullah ke rumahnya dan meminta
istrinya menyajikan makanan yang ada. Padahal makanan tersebut sebenarnya hanya
cukup untuk anak-anak mereka.
Agar
tamu tersebut dapat makan dengan tenang, keluarga itu bahkan mematikan lampu
sehingga tamu tidak menyadari bahwa tuan rumah tidak ikut makan.
“Kalau
dilihat dengan logika hari ini, mungkin suami seperti ini dianggap tidak
bertanggung jawab. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang lain, keluarga ini
sedang mencari kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain,” ungkapnya.
Menurutnya,
kebahagiaan yang muncul dari memberi inilah yang sejalan dengan makna tuzakkihim
dalam ayat tentang zakat dan sedekah.
Ustadz
Agus juga menegaskan bahwa sedekah tidak hanya berdampak pada individu, tetapi
juga pada lingkungan sosial.
Ia
menjelaskan bahwa orang kaya yang pelit dan tidak peduli pada lingkungan
sekitarnya justru bisa menimbulkan rasa iri dan ketidaksenangan di tengah
masyarakat.
Sebaliknya,
orang yang dermawan akan menciptakan suasana sosial yang lebih harmonis.
“Orang
Jawa punya ungkapan pagar mangkok lebih kuat daripada pagar tembok.
Artinya, berbagi dengan tetangga justru bisa menjadi perlindungan yang lebih
kuat daripada pagar rumah,” ujarnya.
Ia
mengutip pesan Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam menjaga harta
dengan cara berzakat. Dengan berbagi kepada orang lain, seseorang tidak hanya
membersihkan hartanya, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan lingkungan.
Kajian
pun ditutup dengan doa agar jamaah mampu memanfaatkan sisa hari di bulan
Ramadan untuk memperbanyak amal kebaikan, terutama melalui zakat, infak, dan
sedekah.
“Semoga Allah memudahkan kita untuk terus berbuat baik dan menjadikan Ramadan kita sebagai Ramadan yang penuh keberkahan,” pungkasnya.
