Detail Berita

Kebersihan Hati dan Menjaga Etika Berpakaian

BOJONEGORO — kh. Shofiyulloh Mansyur menekankan kebersihan hati merupakan fondasi utama dalam menjalankan ajaran Islam, terutama bagi mereka yang berperan sebagai pendakwah dan pendidik umat. Pesan tersebut disampaikan saat kuliah shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang membahas makna ayat wa tsiyaabaka fathohhir dalam Surat Al-Muddatstsir, Jum’at (2/1/2026).

Kuliah Shubuh

BOJONEGORO — kh. Shofiyulloh Mansyur menekankan kebersihan hati merupakan fondasi utama dalam menjalankan ajaran Islam, terutama bagi mereka yang berperan sebagai pendakwah dan pendidik umat. Pesan tersebut disampaikan saat kuliah shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang membahas makna ayat wa tsiyaabaka fathohhir dalam Surat Al-Muddatstsir, Jum’at (2/1/2026).

Beliau menjelaskan bahwa meskipun secara lahiriah ayat tersebut bermakna perintah untuk membersihkan pakaian, para ulama menafsirkan maknanya lebih dalam, yakni sebagai perintah untuk membersihkan hati. Ayat itu, menurutnya, merupakan salah satu perintah awal Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW setelah turunnya wahyu pertama Iqra’, sebagai tanda dimulainya tugas dakwah secara terbuka.

“Orang yang menyampaikan ajaran Islam harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Imannya harus kuat, hatinya bersih, dan niatnya lurus hanya untuk mengagungkan Allah,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa dakwah tidak boleh disertai kepentingan duniawi. Para nabi, kata beliau, tidak pernah meminta imbalan materi atas dakwah yang mereka lakukan. Upah mereka sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT, yang telah menjamin kecukupan rezeki bagi siapa pun yang berjuang di jalan-Nya.

Menurut Gus Muh (saapan akrab beliau) tersebut, kebersihan hati seorang pendakwah akan menentukan keberhasilan pesan yang disampaikan. Hubungan batin antara guru dan murid, atau antara dai dan jamaah, menjadi kunci agar ajaran agama tidak hanya didengar oleh telinga, tetapi juga diterima oleh hati.

Beliau mencontohkan para ulama terdahulu yang menyampaikan ajaran agama dengan cara sederhana, bahkan terkadang tanpa metode yang rumit. Namun, hasilnya tetap membekas kuat pada para santri dan muridnya. “Ucapan mereka sedikit, tetapi pengaruhnya luar biasa, karena sebelumnya hati mereka telah dibersihkan dari ambisi duniawi,” katanya.

Selain kebersihan batin, Gus Muh juga menyoroti pentingnya menjaga kebersihan dan kepantasan berpakaian. Menurutnya, kondisi batin seseorang kerap tercermin dari penampilan lahiriahnya. Ketika hati sedang gelisah atau tidak tenang, hal itu sering tampak dari wajah dan cara berpakaian yang kurang rapi. Sebaliknya, hati yang tenang dan bersih biasanya tercermin dalam penampilan yang tertata.

Pakaian, lanjutnya, dalam Islam memiliki fungsi utama menutup aurat dan menutup hal-hal yang tercela. Namun, etika berpakaian juga harus memperhatikan kesesuaian dengan tempat, situasi, dan peran sosial seseorang. “Berpakaian harus baik secara syariat dan juga pantas menurut adat,” ujarnya.

Beliau mengingatkan bahwa pakaian tidak hanya memengaruhi citra diri seseorang, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku. Berpakaian rapi dan sopan, menurutnya, dapat menumbuhkan rasa malu untuk berbuat maksiat, sekaligus menjaga kewibawaan di hadapan orang lain. Sebaliknya, pakaian yang tidak pantas berpotensi menimbulkan fitnah dan merendahkan martabat pemakainya.

Dalam konteks ini, beliau mengutip kisah Imam Abu Hanifah yang memilih berpakaian rapi dan berwibawa agar ilmunya tidak diremehkan. Hal serupa juga diteladankan para wali dan ulama dalam sejarah dakwah Islam di Nusantara, yang selalu menjaga penampilan lahiriah seiring dengan kebersihan batin.

Meski demikian, Gus Muh menegaskan bahwa berpakaian baik tidak berarti berlebihan. Islam, kata Gus Muh, melarang sikap berlebih-lebihan dalam segala hal, termasuk dalam berpakaian. Kesederhanaan yang pantas justru menjadi cerminan akhlak yang baik.

Kuliah Shubuh tersebut ditutup dengan ajakan kepada jamaah untuk terus menjaga kebersihan hati dan kepantasan berpakaian sebagai bagian dari upaya menjaga diri dari pengaruh buruk, sekaligus menumbuhkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.