Kehormatan dan Hak Sesama Muslim
Kajian kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada Rabu, 4 Maret 2026. Kajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi dan diikuti jamaah yang hadir untuk memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam, khususnya mengenai kehormatan dan hak-hak sesama muslim.
pada
Rabu, 4 Maret 2026. Kajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi
dan diikuti jamaah yang hadir untuk memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam,
khususnya mengenai kehormatan dan hak-hak sesama muslim.
Dalam
pembukaan kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengajak jamaah untuk memanjatkan
puji syukur kepada Allah SWT serta bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia
juga mengajak jamaah menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada Rasulullah SAW,
para sahabat, para ulama, serta para guru yang telah mewariskan ilmu agama.
Kajian
kali ini memasuki bab Ta’zhim Hurumatil Muslimin wa Bayani Huquqihim,
yang menjelaskan tentang pentingnya menjaga kehormatan umat Islam serta
memahami hak-hak sesama muslim.
Ustadz
Rifki menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengagungkan
hal-hal yang dimuliakan oleh-Nya. Di antara yang termasuk dimuliakan oleh Allah
adalah tempat-tempat suci seperti Ka’bah dan masjid, kitab suci Al-Qur’an, para
ulama, serta sesama manusia.
Namun
demikian, ia mengingatkan bahwa dalam memuliakan makhluk tetap harus berada
pada batas yang benar. Menghormati Nabi, ulama, maupun malaikat tidak boleh
sampai menempatkan mereka pada posisi Tuhan.
“Memuliakan
makhluk itu diperintahkan, tetapi tidak boleh sampai mencampuradukkan antara
kedudukan makhluk dan Khalik. Jangan sampai manusia atau malaikat diposisikan
seperti Allah,” jelasnya.
Dalam
kajian tersebut juga disampaikan bahwa menjaga kehormatan manusia termasuk
bagian dari syiar Allah yang harus dijunjung tinggi. Sikap menghormati ulama,
misalnya, merupakan salah satu bentuk memuliakan syiar-syiar Allah.
Ustadz
Rifki mencontohkan bagaimana para sahabat Rasulullah SAW menunjukkan
penghormatan luar biasa kepada Nabi Muhammad SAW. Para sahabat bahkan tidak
berani menatap wajah Rasulullah secara langsung dan lebih banyak menundukkan
pandangan sebagai bentuk adab dan penghormatan.
Selain
itu, Islam juga sangat menekankan pentingnya menjaga nyawa manusia. Ia mengutip
ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa membunuh satu orang tanpa alasan yang
dibenarkan seolah-olah sama dengan membunuh seluruh manusia.
Karena
itu, segala bentuk provokasi yang menyebabkan pertumpahan darah juga termasuk
dosa besar. Bahkan seseorang yang tidak membunuh secara langsung, tetapi
memprovokasi atau merestui pembunuhan, tetap dapat memperoleh dosa yang sama.
“Ada
orang yang tidak membunuh, tetapi memprovokasi orang lain untuk membunuh atau
merestui pembunuhan. Itu juga bisa mendapat dosa pembunuhan,” ujarnya.
Ia
mengingatkan bahwa di era media sosial saat ini, seseorang bisa saja menjadi
penyebab konflik atau kekerasan hanya melalui tulisan atau komentar yang
memprovokasi orang lain.
“Sekarang
orang merasa tangannya bersih, padahal bisa jadi justru tangannya kotor karena
tulisan di media sosial yang memicu permusuhan atau kekerasan,” tambahnya.
Dalam
kesempatan tersebut, Ustadz Rifki juga menyinggung hadis Rasulullah SAW yang
menyebutkan bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat bangunan yang
saling menguatkan satu sama lain.
Hadis
tersebut mengajarkan pentingnya persatuan umat Islam. Perbedaan pendapat atau
mazhab seharusnya tidak menjadi alasan untuk memecah belah umat selama masih
berada dalam lingkup keislaman.
Islam
juga mengajarkan agar seorang muslim tidak menyakiti orang lain, bahkan dalam
hal-hal kecil sekalipun. Rasulullah SAW pernah mengingatkan agar seseorang yang
membawa benda tajam berhati-hati agar tidak melukai orang lain.
Menurut
Ustadz Rifki, nilai moral dari hadis tersebut sangat relevan dengan kehidupan
saat ini, seperti tidak berkendara secara ugal-ugalan, tidak merokok di tempat
umum yang bisa membahayakan orang lain, serta tidak melakukan tindakan yang
mengganggu keselamatan orang lain.
Kajian
juga membahas pentingnya kasih sayang dalam Islam. Rasulullah SAW dikenal
sebagai sosok yang penuh kasih sayang, bahkan kepada anak-anak. Dalam salah
satu hadis, Nabi Muhammad SAW mencium cucunya Hasan bin Ali sebagai bentuk
kasih sayang.
Rasulullah
SAW bersabda bahwa siapa saja yang tidak memiliki kasih sayang kepada manusia,
maka ia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT.
Selain
itu, Ustadz Rifki juga mengingatkan para imam salat agar tidak memperpanjang
salat secara berlebihan ketika menjadi imam, karena di antara jamaah terdapat
orang tua, orang sakit, maupun orang yang memiliki kebutuhan lainnya.
Kajian
diakhiri dengan pesan agar umat Islam senantiasa menjaga persatuan, menghindari
tindakan yang menyakiti orang lain, serta menumbuhkan sikap kasih sayang dalam
kehidupan sehari-hari.
Dengan memahami ajaran tersebut, diharapkan umat Islam dapat hidup dalam kebersamaan, saling menghormati, dan saling menguatkan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
