Detail Berita

Kekhawatiran Rasulullah Umat Terjerumus Cinta Dunia

Bojonegoro, Rasulullah Muhammad SAW tidak khawatir umatnya terjerumus dalam kemusyrikan atau kehilangan iman akibat musibah dan bencana. Hal yang justru paling dikhawatirkan Nabi adalah ketika umatnya saling bertikai, bermusuhan, bahkan saling mencelakai akibat persoalan duniawi. Pesan tersebut disampaikan dalam kajian salat Shubuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Selasa (27/1/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Rasulullah Muhammad SAW tidak khawatir umatnya terjerumus dalam kemusyrikan atau kehilangan iman akibat musibah dan bencana. Hal yang justru paling dikhawatirkan Nabi adalah ketika umatnya saling bertikai, bermusuhan, bahkan saling mencelakai akibat persoalan duniawi. Pesan tersebut disampaikan dalam kajian salat Shubuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Selasa (27/1/2026).

Dalam kajian tersebut dijelaskan sabda Rasulullah SAW yang masyhur, “Aslu kulli khathi’atin hubbud dunya”, pangkal segala kesalahan dan keburukan adalah cinta berlebihan terhadap dunia. Ustadz Khafif menegaskan bahwa kecintaan terhadap dunia kerap melahirkan konflik, iri hati, kesombongan, dan pertumpahan darah, bahkan di tengah masyarakat beragama.

“Rasulullah tidak khawatir umatnya rusak tauhidnya, karena umat Nabi Muhammad telah diberi pengaman tauhid berupa shalawat,” ujar Ustadz Khafif di hadapan jamaah.

Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW disebut sebagai benteng akidah yang menjaga umat Islam dari penyimpangan tauhid. Dengan memahami dan mengamalkan shalawat secara benar, umat diyakini tidak akan terjerumus pada pengkultusan manusia atau perbuatan yang menyekutukan Allah.

Ustadz Khafif juga menyinggung kecenderungan sebagian kalangan yang mudah menuduh praktik ziarah kubur dan tabarruk sebagai kesyirikan. Menurutnya, sikap tersebut lahir dari pemahaman agama yang sempit dan tidak menyeluruh.

Dalam konteks sosial, disampaikan pula bahwa sebagian besar konflik serius di masyarakat, termasuk perselisihan hingga pembunuhan, berakar dari persoalan duniawi, terutama harta. Ia mencontohkan kasus kekerasan yang terjadi di Bojonegoro, yang berawal dari dendam pribadi dan berujung pada hilangnya nyawa seseorang, meski korban dikenal sebagai orang yang taat beribadah.

“Jangan sampai gara-gara urusan dunia yang sepele, persaudaraan rusak dan iman luntur,” tegasnya.

Kajian juga mengangkat keteladanan para ulama dan tokoh sufi, seperti Syekh Ibrahim bin Adham, yang meski hidup dalam keterbatasan dan penderitaan fisik, tetap memancarkan rasa syukur dan ketenangan batin. Kisah tersebut dijadikan pelajaran bahwa kekuatan iman dan kesederhanaan hati mampu meringankan beban hidup seberat apa pun.

Menurut Ustadz Khafif, pikiran yang terlalu dipenuhi urusan dunia akan mudah gelap dan menjadi pintu masuk berbagai penyakit hati, seperti sombong dan dengki. Karena itu, umat Islam diajak membersihkan hati dengan memperbanyak shalawat, menjaga salat wajib dan sunah, serta melatih ketawadhuan melalui sujud.

“Salat dan sujud adalah cara paling efektif untuk mematahkan kesombongan dan mengalahkan tipu daya setan,” ujarnya.

Kajian Shubuh tersebut ditutup dengan ajakan untuk menjalani Islam secara sederhana, penuh syukur, dan fokus pada ibadah. Seorang mukmin sejati, kata Ustadz Khafif, hidup di antara dua kebaikan: kebahagiaan saat melaksanakan salat dan ketenangan saat menunggu waktu salat berikutnya.